Showing posts with label Anonima13. Show all posts
Cerpen | The Adventure of Hime: Key Locker
The Adventure of Hime : Key Locker
Lost
Forest, Eastabarieth Empire, 22:00 WEE
Setelah berhasil mengalahkan naga, Hime bergegas menunggangi kuda
untuk sesegera mungkin pulang ke mensionnya. Ia melewati jalan yang sama
seperti saat ia berangkat. Blue Moon mengiringi perjalan Hime.
Sesampainya di ujung jembatan
River Wish. Ia melihat segerombolan burung dari arah utara. Burung itu
berwarna hitam, warna khas burung Raven. Burung burung itu bergerak mendekat ke arahnya.
Burung Raven itu tumben, terbang berkelompok sebanyak itu. Ada apa ya? Gumam Hime seraya melajukan
kudanya menyeberangi jembatan River Wish.
Gerombolan burung Raven semakin
mendekat ke arah Hime sampai pada akhirnya menyerangnya tanpa bisa
dihindari. Burung-burung itu terus mencakar Hime hingga ia jatuh ke sungai. Saat masuk ke
sungai, Hime merasakan keanehan karena ia
bisa bernafas di dalam air. Tetapi lambat laun kesadaran memudar hingga ia
tidak mengingat apapun lagi.
***
Begitu tersadar, Hime sudah berada di sebuah tempat berpasir. Seperti sebuah gurun yang luas. Saat ia
berhasil mengumpulkan kesadarannya kembali secara utuh, ia mencoba berdiri dan melihat ke arah sekitar. Yang ia lihat hanya
hamparan pasir yang cukup luas. Disaat yang sama tiba tiba muncul bayangan
hitam di depan Hime.
Wusshh! Hempasan angin menerpa wajah Hime
membuatnya sulit melihat dengan jelas. Sesaat kemudian angin berhenti bertiup
menyisakan sesosok wanita dengan jubah hitam berdiri tegak di depan Hime.
"Selamat datang di istana
pasirku, gadis muda." Wanita itu menatap
Hime.
"Siapa kau, dan dimana ini?" Tanya Hime.
"Aku adalah Ravenia, jelmaan burung Raven yang menarikmu ke sini. Sekarang kau ada di Gurun
Shand, Southcroith Empire." Jawabnya sambil melemparkan senyum.
"Southcroith? Apa maumu
membawaku kemari?" Tanya Hime mulai kesal.
"Telur yang kau bawa tidak
bisa dengan mudah kau miliki. Kau akan terkurung di sini selamanya jika kau tidak
mencari jalan keluarnya. Ini adalah lompatan batas dimensi, sekalipun kau berjalan pulang ke utara kau tidak akan pernah sampai
dirumahmu." Ucap wanita berjubah hitam itu.
"Lalu apa maumu?"
"Lihatlah kotak di sebelah sana itu!" Ucap
wanita itu sambil menunjuk ke arah sebuah kotak yang lumayan besar.
"Iya." Terlihat
sebuah kotak mirip kotak harta karun berhias batu mulia di tiap rusuk kotak
tersebut.
"Itu adalah jalan pulangmu.
Tapi kotak itu masih terkunci. Jika ingin membukanya ambil kuncinya di Gua
Cheroz." Tambahnya lagi seraya menjentikkan jarinya. Sesaat kemudian tak
jauh dari posisi mereka nampak sebuah gua yang sangat menyeramkan.
"Gua Cheroz?" Tanya Hime
seraya menunjuk ke arah gua yang baru saja terlihat.
"Iya. Pergilah kesana dan
ambil kuncinya! Sekarang di sini pukul 09:00 WSE jika tidak
cepat kupastikan kotak itu akan segera hilang." Jelas wanita itu lalu
tubuhnya berpendar menjadi gerombolan burung Raven hitam dan berlalu.
Mendengar ucapan wanita itu Hime
pun bergegas menuju gua itu dengan berlari. Sesampainya di depan mulut gua. Ia sempat merasa ragu sebab tampilan
gua itu sangat mengerikan.
Gua Gurun Cheroz, Southcroith Empire, 09:20 WSE
Sesampainya di mulut gua, Hime berhenti sejenak dan
memandang ke arah gua itu dengan ragu-ragu.
Apa benar ada kunci di tempat seperti ini?
Sesaat kemudian ia masuk kedalam
gua. Dan Hime langsung melihat sebuah kunci emas yang tergantung di langit
langit gua dan menjuntai ke bawah. Tingginya hanya sekitar tiga meter saja. Melihat sebuah kunci
Hime langsung mencoba mengambilnya dengan melompat ke dinding gua lebih dulu
lalu mengarah ke kunci untuk mendapat gaya dorong lebih besar.
Tinggal beberapa inchi saja tanganya
sampai di kunci tiba tiba sesutu menghantam tubuh bagian kirinya hingga ia
terhempas ke dinding kanan gua.
Bruakk! Benturan yang lumayan keras
diterima Hime.
"Ach... Sakit..." Rintih Hime seseat setelah terbentur di
dinding gua. Kemudian Hime berupaya bangkit berdiri kembali.
Setelah Hime berdiri ia melihat
seekor monster yang cukup besar di depannya. Tubuh gempal dengan kulit
mengkilap itu terlihat sangat marah memandang Hime.
"Inikah Cheroz itu? Monster penjaga kunci. Kupikir
aku bisa dengan mudah mengambil kunci tanpa harus menghadapi monster ternyata
pikiranku meleset. Tapi baiklah." Ucap Hime seraya berdiri tegak lalu
menarik Katananya dan bersiaga di posisi menyerang.
"Hei .... Cheroz jika itu benar kau aku
beritahu jika aku menginginkan kuncimu sebab aku mau pulang. Aku akan mengambil
paksa darimu." Ucap Hime seraya berlari cepat mendekat ke arah Cheroz.
Cheroz pun berlari mendekati Hime siap untuk nenyerangnya.
"Kyaa...!" Teriak Hime seraya melompak
ke atas lalu melompat ke belakang Cheroz kemudian tanpa jeda
ia mengarahkan sayatan Katananya ke arah punggung Cheroz dari arah kanan.
Splang! Suara benturan Katana Hime dan
punggung Cheroz seperti benturan besi. Punggung Cheroz tak terluka sedikitpun.
"Apa apaan ini? Tubuhnya keras sekali." Ucap
Hime terkejut.
Belum usai keterkejutannya, Hime kembali dihantam ekor Cheroz
dari sisi kanan, ia kembali tersungkur. Dan mendapat luka akibat benturan tersebut.
"Ach.... Apa
yang harus kulakukan. Jika kulitnya saja sekeras itu lalu bagaimana caraku
mengalahkannya?" Gumam Hime seraya mencoba
berdiri kembali dengan menahan rasa sakit di tangan kirinya akibat benturan
tadi. Lalu bersiaga untuk menyerang kembali.
Hime memperhatikan Cheroz secara
keseluruhan. Hime melihat di bagian ekor Cheroz tidak mengkilap ada sebuah
cincin di ujung ekornya. Cincin berwarna kuning emas itu terlihat tak biasa.
Baiklah aku coba serang daerah sana saja. Jika itu lebih
lunak setidaknya aku punya cara untuk menghentikan lajunya. Gumam Hime mulai percaya diri.
Setelah itu Hime berlari lebih
capat secara zig-zag membuat Cheroz menjadi bingung. Hime menebas datar ke
arah depan dari kiri ke kanan lalu Cheroz bergerak mundur untuk menghindari
tebasan Hime.
Hime terus mengulang serangan.
Menebas horizontal, vertikal bahkan diagonal pun dilakukannya untuk tidak
memberi kesempatan Cheroz membalik serangan hingga akhirnya Cheroz terdesak di
dinding gua.
Cheroz mencoba melompat ke arah
Hime namun ia menjatuhkan dirinya ke lantai gua dengan posisi telentang
dan membiarkan Cheroz melompati tubuhnya, dan mendapati ekor Cheroz
menjuntai di depannya, lalu tanpa jeda Hime mengarahkan tebasannya tepat di
ujung ekor Cheroz hingga ekornya terputus.
Slasshh!! Tebasan Hime memutus ekor Cheroz.
Cheroz pun terhempas ke lantai gua dan mengerang kesakitan dan mencoba berdiri
kembali menghadap ke arah Hime siap untuk membalas.
Setelah ekor Cheroz terputus dan
jatuh ke tanah tanpa jeda Hime lalu menusukkan ujung pedangnya tepat ke arah
cincin yang ada di ujung ekor Cheroz hingga hancur.
Tiba tiba gua bergetar seperti
terkena gempa bumi. Cheroz pun menghilang. Atap dan Dinding gua mulai runtuh
sedikit demi sedikit. Menyadari bahaya Hime lalu bergegas melompat dan
mengambil kunci yang masih tergantung dengan menebas talinya lalu menangkapnya. Setelah
mendapatkannya Hime pun bergegas keluar gua.
"Huft.... Untung saja sempat."
Ucap Hime seraya mengatur nafas yang terengah engah di luar gua. Ia menyaksikan akhirnya Gua Cheroz
pun runtuh rata dengan tanah. Hime kembali menyarungkan Katana miliknya
dipinggang kirinya.
Setelah nafasnya teratur kembali
Hime bergegas menuju kotak dimensi yang akan membawanya pulang.
***
Gurun
Shand, Southcroith, 11:45 WSE
Hime sampai di kotak besar yang
tadi ia lihat bersama wanita berjubah hitam. Ia menarik nafas panjang lalu
memasukkan kunci di lubang kunci kotak itu.
Klak! Kunci terbuka lalu cahaya terang
menyeruak dari dalam kotak yang menarik, Hime bergegas masuk kedalam
kotak. Hime tertarik ke ruang dimensi
bersama kunci yang ia dapat tadi, seperti saat awal tadi ia tercebur di air.
Berangsung angsur kesadarannya menghilang dan Hime tidak ingat apa apa lagi.
Biodata Penulis
Anonima13 adalah seseorang yang biasa dan baru kemarin mengenal dunia tulis menulis. Untuk pertama kali hasil belajarnya mendapat apresiasi. Itu membuatnya semakin ingin dan ingin terus berkarya. Belajar memberi senyuman lewat karyanya dan menyentuh hati setiap pembaca adalah impiannya. Jika ingin mengenal lebih dekat add FB Kiara Rei Ayanami maka kalian akan tau betapa simplenya dia.
Ingin tulisan kalian dipublikasikan di blog ini? Baca ketentuanya di sini
Ane tunggu naskah kalian! ^.^
Ane tunggu naskah kalian! ^.^
Cerpen | The Adventure of Hime: Blue Dragon
![]() |
| Locksene Mansion |
The Adventure of Hime : Blue
Dragon
Locksene Mension, Eastabarieth Empire, 07:00 WEE
Pagi yang ramah dengan senyum malu
sang fajar menerpa tiap dinding-dinding timur Locksene mension. Sebuah mension mewah milik
seorang keluarga yang tergolong highclass
namun memiliki gaya hidup yang berbeda dari kalangan highclass lainnya.
Dulunya mension itu dihuni oleh
satu keluarga utuh, namun karena ada pembantaian 13 tahun lalu, sekarang mension itu hanya dihuni
oleh pewaris tunggal Locksene Corporation. Pewaris itu adalah Hime Locksene. Ia tinggal
bersama beberapa orang kepercayaan keluarga Locksene Corporation.
Suatu hari, seorang peramal datang
menghampiri Hime tepat disaat ulang tahunnya yang ke-16. Peramal itu sengaja datang
sesuai dengan wasiat kepala keluarga Locksene sebelumnya.
Ruang
Tamu Locksene Mension, 08:00 WEE
Peramal wanita berambut
merah dengan jubah hitam pun datang menemui Hime di Locksene Mension. Mereka akhirnya berbincang
di ruang tamu seperti Ayah Hime terdahulu yang tidak
lain adalah kepala keluarga terdahulu.
"Sesuai wasiat Ayah anda
yakni Tuan Ryuku Locksene, saya datang diulang tahun Hime-sama untuk memberitahukan
ramalanku beberapa waktu lalu. Setelah umur anda 16 tahun, saya akan selalu datang untuk
mengabari anda mengenai ramalan hamba." Ucap sang peramal.
"Padahal ayahku sudah
meninggal kenapa kau masih setia pada keluarga Locksene?" Tanya Hime
menguji peramal itu sambil menyilangkan kakinya dengan anggun.
"Tuan besar Locksene sudah menjadi
keluarga peramal Timur, tentu saja kami akan setia pada keluarga Locksene."
Jawab peramal itu masih dengan rasa hormat.
"Baiklah, beritahu aku apa ramalanmu!" Perintah Hime sedikit
bosan.
"Berdasarkan hasil ramalanku
beberapa waktu lalu, aku melihat kehancuran keluarga Locksene
Corporation." Jelas peramal itu dengan nada berat.
"Apa? Kehancuran? .... Lalu apa yang harus kulakukan?"
Tanya Hime sedikit panik.
"Satu-satunya jalan adalah, anda harus mengalahkan se-ekor naga biru yang menjadi
legenda Lost Forest di tepi sungai Wish. Lalu mengambil darahnya untuk anda
simpan." Jawab peramal itu dengan serius.
"Mengalahkan naga? Apa anda serius? Aku?" Tanya
Hime makin terkejut.
"Iya nona. Anda! Aku akan membekali anda dengan sebuah
benda." Jawab peramal itu lagi sambil
menunjukan sesuatu di balik barang bawaannya.
Peramal itu memberi Hime sebuah Katana dengan panjang
satu-meter. Berwarna putih keseluruhan dengan ukiran kelopak sakura lambang keluarga
Locksene pada bilahnya―Hawa dingin sangat terasa begitu Katana itu dikeluarkan dari sarungnya.
"Ini Katana siapa?"
Tanya Hime seraya mengambil Katana dari peramal itu. Ia merasakan hawa dingin
dari tangan menjalar ke tubuhnya.
"Itu adalah Katana khusus
untukmu. Ayahmu telah membuatnya jauh sebelum anda lahir. Katana itu dibuat
khusus dan kami menjaganya hingga anda siap menggunakannya. Pergilah ke Lost
Forest dengan ini sesegera mungkin! Sebab kehancuran Locksene Corporation tidak akan menunggu anda
nona." Jawab Peramal itu dengan tegas.
"Baiklah hari ini juga aku
berangkat!" Ucap Hime seraya bangkit dari kursinya.
"Ken siapkan aku kuda terbaik! Aku akan berangkat hari
ini." Perintah Hime pada pengawal sekaligus putra seorang
Jendral yang mengajari Hime beladiri sejak kecil.
"Baik." Jawab Ken
bergegas.
Hime kemudian mengganti pakaian,
menyelipkan pisau di pinggang kanannya lalu bergegas mengambil Katana yang tadi diberikan peramal itu.
"Bibi peramal, aku berangkat. Kutitipkan mension ini padamu.
Doakan aku segera kembali." Ucap Hime seraya berlari menuju luar mension.
"Tapi nona...." Ucap
peramal itu terputus karena Hime sudah berlari menjauh.
Melihat Hime berlari penuh
semangat sejenak ia terlihat seperti gadis yang berbeda dari yang tadi peramal
itu temui beberapa waktu. Ia terlihat seperti ayahnya dahulu.
Gerbang luar
Locksene Mension, 10:00 WEE
"Apa nona yakin? Aku ikut! Kalau ayah tau
pasti nona tidak akan diizinkan pergi." Ucap Ken berusaha mencegah Hime.
Karena melihat kekhawatiran Ken,
Hime berinisiatif untuk menenangkannya. Hime mendekati Ken dengan senyuman lembut.
"Tenanglah Ken. Aku pasti
kembali. Jangan bilang pada paman Shintaro ya. Aku janji akan pulang. Pewaris
Locksene tinggal aku saja. Kalau bukan aku, tidak ada yang bisa menyelamatkan
Locksene Corporation. Aku harap kamu mengerti Ken. Percayalah padaku." Ucap Hime sambil mengecup
pipi kiri Ken. Kemudian menunggangi kudanya lalu meninggalkan Ken.
***
Hime berangkat menuju Lost Forest
dengan kecepatan penuh. Lost Forest termasuk hutan larangan. Tak banyak yang
datang kesana, tetapi Hime pernah hampir kesana saat berlatih bersama paman Shintaro.
Wish
River, Eastabarieth Empire, 16:00 WEE
Hime tiba di Wish River, tepat di seberang sungai itulah terdapat Lost Forest. Dengan melihat dari
jauh saja hutan itu sudah terlihat mengerikan. Tak banyak yang tau isinya
seperti apa, karena menurut cerita siapapun yang masuk kesana akan
kehilangan arah. Dan tak banyak yang bisa kembali dari sana.
Itu dia
tempatnya! Aku harus bergegas. Ayah bantu aku! Ucap Hime dalam hati seraya mengusap Katana di pinggang kirinya berharap sang Ayah akan bersamanya selalu.
Hime kembali memacu kudanya dengan
tidak ragu sedikitpu. Sebab beban kelangsungan Locksene Corporation sekarang
ada di tangannya.
Lost
Forest, 16:45 WEE
Hime tiba di bibir Lost Forest. Ia
tetap menunggangi kudanya namun dengan perlahan. Ia memperhatikan sekelilingnya
dengan waspada. Hime terus melanjutkan laju kudanya hingga ia tiba di depan
sebuah penghalang. Seperti sebuah tirai penghalang berwarna ungu. Katana
miliknya bergetar sendiri seperti bereaksi terhadap tirai itu!
Setelah turun dari kudanya Hime bergegas menyentuh tirai penghalang itu dengan sedikit keraguan. Saat tangan kanannya menyentuh tirai itu, tangannya menembus tirai pelindung. Menyadari ia bisa masuk, Hime kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam tirai pelindung. Tubuhnya telah masuk keseluruhan.
Setelah masuk Hime mendapati
sebuah Goa, amat sangat besar bahkan terlalu besar menurutnya. Katana
Hime terus bergetar semakin kuat seperti bereaksi terhadap sesuatu yang ada di
dalam Goa itu. Karena penasaran Hime pun masuk kedalam Goa itu.
Saat memasuki Goa, Hime melihat seekor naga biru
yang sedang tertidur. Katana miliknya mendadak diam tak bergerak. Kemudian Hime
menarik Katananya dan bersiaga.
Apa naga besar ini yang harus kukalahkan? Gumamnya dalam hati.
Hime berusaha mencari sudut yang
tepat untuk menyerangnya diam-diam, saat naga itu sedang tertidur. Krak! Hime menginjak ranting kering
tanpa sengaja. Suara ranting patah itu menggema di dinding Goa hingga
membangunkan sang naga. Sontak naga itu mengibaskan ekornya tanda marah
karena tidurnya terganggu. Goncangan yang besar membuat Hime terjatuh.
Ach....! Jerit kecil Hime saat tubuhnya
terjatuh ke lantai gua.
Mendengar suara manusia naga itu
reflek menyemburkan api ke arah Hime yang masih terduduk! Hembusan api dari mulut naga tepat
mengarah ke Hime. Hime yang terkejut tidak bisa bergerak cepat dan ia hanya
mampu mengangkat Katananya searah dengan wajahnya. Clink! Katana itu menyala dengan cahaya putih
di depan Hime.
Api yang mengarah pada Hime
mendadak di belokkan. Ada tirai yang melingkup tubuh Hime. Tirai putih yang
cukup dingin hingga api tidak membakar tubuhnya. Menyadari itu membuat Hime
yakin ayahnya ada di dekatnya! Ia bangkit dari posisinya saat itu. Katana siap di
depannya.
"Aku siap menunaikam tugasku
Ayah." Ucap Hime seraya berlari kearah naga itu.
Naga itu terus terusan
menyemburkan api ke arah di mana Hime berada. Ia hanya bisa
menghindar, karena Hime harus menyerangnya daro jarak dekat agar
mendapatkan serangan yang berarti.
Bagaimana
ini aku butuh kecepatan lebih jika ingin lepas dari jangkauan naga ini. Tapi
apa yang bisa kulakukan untuk setidaknya tidak terlihat olehnya sejenak? Gumam Hime seraya memperhatikan
sekeliling Goa.
Stalaktit
itu! Sepertinya bisa kupakai untuk mengalihkan perhatiannya.
Kalau gagal paling aku mati disini. Ucap Hime seraya kembali bersiap
bergerak.
Hime memegang Katananya dengan
tangan kanan. Lalu berlari lurus ke depan. Ia coba menebas naga secara
diagonal dari kanan. Lalu naga menyemburkan apinya tepat ke arahnya! Hime mencoba menahan api itu dengan
membuat tirai seperti tadi.
Sang naga bergerak ke arah kiri menghindari Hime. Begitu
mendarat di lantai Goa tanpa jeda Hime kambali melompat kali ini ia mencoba
melompat ke atas lalu mencoba menebas stalaktit sekali lalu dengan
bantuan dinding atas Goa ia kembali ke lantai Goa mendarat dengan sempurna.
Cukup
keras. Sekali tebas lagi stalaktit itu pasti jatuh!
Sekarang tinggal bagaimana menjatuhkannya di waktu yang tepat. Gumam Hime dalam hati seraya
memperhatikan posisi stalaktit dan sang naga, lalu bersiap kembali menyerang.
Hime kembali mencoba bergerak
dengan cepat ke arah belakang naga dan diikuti oleh sang naga yang terus
menyemburkan apinya. Hime terus berlari, sesekali ia melompat untuk menghindari
semburan api sang naga. Kemudian dengan gerakan cepat Hime melempar pedangnya
hingga menancap ke stalaktit yang tadi di tebasnya. Naga mengikuti gerakan
pegang Hime dan membelakangi Hime.
Saat pegang menancap di stalaktit
kemudian stalaktit itu jatuh―Sang naga langsung menyemburkan api kearah stalaktit yang
jatuh itu. Disaat yang sana Hime melompat ke arah sang naga tepat di kepalanya
Hime menancapkan pisau yang di bawanya tepat di kepalanya. Darah mengucur deras. Naga itu meronta-ronta kesakitan hingga tubuh Hime
yang berpegangan pada pisau yang menancap di kepala naga jadi ikut terhuyung ke sana ke kemari mengikuti gerak sang naga. Sampai
akhirnya naga itu berhenti bergerak.
Hah...hah...hah... Nafas Hime memberu, ia berusaha mengaturnya.
Setelah Naga itu terjatuh dan tak
bergerak lagi Hime melompat ke atas dan mengambil Katana
miliknya. Lalu kembali mendarat di lantai gua tepat di depan wajah sang naga.
Hime mengusap naga itu.
"Maafkan aku ..., Aku―" Ucap Hime terputus
saat tiba tiba naga itu membuka mata lalu bicara.
"Tidak perlu minta maaf. Aku
sudah menunggumu." Ucap naga itu dengan nada berat.
Hime terkejut, ia mundur beberapa langkah lalu menyiagakan kembali Katananya. Namun cahaya terang menyinari
tubuh sang naga. Kemudian
naga itu berubah menjadi seorang pria tua yang tubuhnya di lingkupi cahaya putih yang cukup terang.
"Terima kasih sudah
membebaskanku dari kutukan ini. Aku sudah lama menunggumu." Ucap pria tua itu.
"Menungguku? Aku kesini
karena ingin darah naga biru untuk tetap mempertahankan warisan
keluargaku." Ucap Hime.
"Aku tahu. Karena itu aku
menunggumu. Ambillah ini. Ini akan menjadi peneguh keluargamu sekaligus penjaga
seluruh keluargamu." Ucap pria itu seraya memberi sebuah telur agak besar berwarna biru.
"Telur?" Tanya Hime
seraya mengambil telur itu.
"Iya telur itu tidak akan
menetas melainkan akan muncul sebagai jelmaan naga biru saat kau
membutuhkannya. Darah naga biru ada di dalam telur itu. Bawalah pulang dan
simpanlah. Terima kasih telah memenuhi tugasmu." Ucap pria tua itu lalu
menghilang.
Hime yang mendengar ucapan pria
tua itu kemudian menyimpan telur istimewa itu di tasnya. Seketika tirai
ungu yang melindungi tempat itu hilang dan Lost forest terlihat sangat
berbeda dari sebelumnya.
Karena Hime merasa tugasnya
selesai Hime pun bergegas pulang ke Locksene mension miliknya dengan
menunggangi kudanya dengan kecepatan penuh.
Biodata Penulis
Anonima13 adalah seseorang yang biasa dan baru kemarin mengenal dunia tulis menulis. Untuk pertama kali hasil belajarnya mendapat apresiasi. Itu membuatnya semakin ingin dan ingin terus berkarya. Belajar memberi senyuman lewat karyanya dan menyentuh hati setiap pembaca adalah impiannya. Jika ingin mengenal lebih dekat add FB Kiara Rei Ayanami maka kalian akan tau betapa simplenya dia.
Ingin tulisan kalian dipublikasikan di blog ini? Baca ketentuanya di sini
Ane tunggu naskah kalian! ^.^
Ane tunggu naskah kalian! ^.^



