Showing posts with label Anonima13. Show all posts

Cerpen | The Adventure of Hime: Key Locker


The Adventure of Hime : Key Locker

            Lost Forest, Eastabarieth Empire, 22:00 WEE
            Setelah berhasil mengalahkan naga, Hime bergegas menunggangi kuda untuk sesegera mungkin pulang ke mensionnya. Ia melewati jalan yang sama seperti saat ia berangkat. Blue Moon mengiringi perjalan Hime.

            Sesampainya di ujung jembatan River Wish. Ia melihat segerombolan burung dari arah utara. Burung itu berwarna hitam, warna khas burung Raven. Burung burung itu bergerak mendekat ke arahnya.

            Burung Raven itu tumben, terbang berkelompok sebanyak itu. Ada apa ya? Gumam Hime seraya melajukan kudanya menyeberangi jembatan River Wish.

            Gerombolan burung Raven semakin mendekat ke arah Hime sampai pada akhirnya menyerangnya tanpa bisa dihindari. Burung-burung itu terus mencakar Hime hingga ia jatuh ke sungai. Saat masuk ke sungai, Hime merasakan keanehan karena ia bisa bernafas di dalam air. Tetapi lambat laun kesadaran memudar hingga ia tidak mengingat apapun lagi.

***

            Begitu tersadar, Hime sudah berada di sebuah tempat berpasir. Seperti sebuah gurun yang luas. Saat ia berhasil mengumpulkan kesadarannya kembali secara utuh, ia mencoba berdiri dan melihat ke arah sekitar. Yang ia lihat hanya hamparan pasir yang cukup luas. Disaat yang sama tiba tiba muncul bayangan hitam di depan Hime.

            Wusshh! Hempasan angin menerpa wajah Hime membuatnya sulit melihat dengan jelas. Sesaat kemudian angin berhenti bertiup menyisakan sesosok wanita dengan jubah hitam berdiri tegak di depan Hime.

            "Selamat datang di istana pasirku, gadis muda." Wanita itu menatap Hime.

            "Siapa kau, dan dimana ini?" Tanya Hime.

            "Aku adalah Ravenia,  jelmaan burung Raven yang menarikmu ke sini. Sekarang kau ada di Gurun Shand, Southcroith Empire." Jawabnya sambil melemparkan senyum.

            "Southcroith? Apa maumu membawaku kemari?" Tanya Hime mulai kesal.

            "Telur yang kau bawa tidak bisa dengan mudah kau miliki. Kau akan terkurung di sini selamanya jika kau tidak mencari jalan keluarnya. Ini adalah lompatan batas dimensi, sekalipun kau berjalan pulang ke utara kau tidak akan pernah sampai dirumahmu." Ucap wanita berjubah hitam itu.

            "Lalu apa maumu?"

            "Lihatlah kotak di sebelah sana itu!" Ucap wanita itu sambil menunjuk ke arah sebuah kotak yang lumayan besar.

            "Iya." Terlihat sebuah kotak mirip kotak harta karun berhias batu mulia di tiap rusuk kotak tersebut.

            "Itu adalah jalan pulangmu. Tapi kotak itu masih terkunci. Jika ingin membukanya ambil kuncinya di Gua Cheroz." Tambahnya lagi seraya menjentikkan jarinya. Sesaat kemudian tak jauh dari posisi mereka nampak sebuah gua yang sangat menyeramkan.

            "Gua Cheroz?" Tanya Hime seraya menunjuk ke arah gua yang baru saja terlihat.

            "Iya. Pergilah kesana dan ambil kuncinya! Sekarang di sini pukul 09:00 WSE jika tidak cepat kupastikan kotak itu akan segera hilang." Jelas wanita itu lalu tubuhnya berpendar menjadi gerombolan burung Raven hitam dan berlalu.

            Mendengar ucapan wanita itu Hime pun bergegas menuju gua itu dengan berlari. Sesampainya di depan mulut gua. Ia sempat merasa ragu sebab tampilan gua itu sangat mengerikan.

            Gua Gurun Cheroz, Southcroith Empire, 09:20 WSE

            Sesampainya di mulut gua, Hime berhenti sejenak dan memandang ke arah gua itu dengan ragu-ragu.

            Apa benar ada kunci di tempat seperti ini?

            Sesaat kemudian ia masuk kedalam gua. Dan Hime langsung melihat sebuah kunci emas yang tergantung di langit langit gua dan menjuntai ke bawah. Tingginya hanya sekitar tiga meter saja. Melihat sebuah kunci Hime langsung mencoba mengambilnya dengan melompat ke dinding gua lebih dulu lalu mengarah ke kunci untuk mendapat gaya dorong lebih besar.

            Tinggal beberapa inchi saja tanganya sampai di kunci tiba tiba sesutu menghantam tubuh bagian kirinya hingga ia terhempas  ke dinding kanan gua.

            Bruakk! Benturan yang lumayan keras diterima Hime.

            "Ach... Sakit..." Rintih Hime seseat setelah terbentur di dinding gua. Kemudian Hime berupaya bangkit berdiri kembali.

            Setelah Hime berdiri ia melihat seekor monster yang cukup besar di depannya. Tubuh gempal dengan kulit mengkilap itu terlihat sangat marah memandang Hime.

            "Inikah Cheroz itu? Monster penjaga kunci. Kupikir aku bisa dengan mudah mengambil kunci tanpa harus menghadapi monster ternyata pikiranku meleset. Tapi baiklah." Ucap Hime seraya berdiri tegak lalu menarik Katananya dan bersiaga di posisi menyerang.

            "Hei .... Cheroz jika itu benar kau aku beritahu jika aku menginginkan kuncimu sebab aku mau pulang. Aku akan mengambil paksa darimu." Ucap Hime seraya berlari cepat mendekat ke arah Cheroz. Cheroz pun berlari mendekati Hime siap untuk nenyerangnya.

            "Kyaa...!" Teriak Hime seraya melompak ke atas lalu melompat ke belakang Cheroz kemudian tanpa jeda ia mengarahkan sayatan Katananya ke arah punggung Cheroz dari arah kanan.

            Splang! Suara benturan Katana Hime dan punggung Cheroz seperti benturan besi. Punggung Cheroz tak terluka sedikitpun.

            "Apa apaan ini? Tubuhnya keras sekali." Ucap Hime terkejut.

            Belum usai keterkejutannya, Hime kembali dihantam ekor Cheroz dari sisi kanan, ia kembali tersungkur. Dan mendapat luka akibat benturan tersebut.

            "Ach.... Apa yang harus kulakukan. Jika kulitnya saja sekeras itu lalu bagaimana caraku mengalahkannya?" Gumam Hime seraya mencoba berdiri kembali dengan menahan rasa sakit di tangan kirinya akibat benturan tadi. Lalu bersiaga untuk menyerang kembali.

            Hime memperhatikan Cheroz secara keseluruhan. Hime melihat di bagian ekor Cheroz tidak mengkilap ada sebuah cincin di ujung ekornya. Cincin berwarna kuning emas itu terlihat tak biasa.

            Baiklah aku coba serang daerah sana saja. Jika itu lebih lunak setidaknya aku punya cara untuk menghentikan lajunya. Gumam Hime mulai percaya diri.

            Setelah itu Hime berlari lebih capat secara zig-zag membuat Cheroz menjadi bingung. Hime menebas datar ke arah depan dari kiri ke kanan lalu Cheroz bergerak mundur untuk menghindari tebasan Hime.

            Hime terus mengulang serangan. Menebas horizontal, vertikal bahkan diagonal pun dilakukannya untuk tidak memberi kesempatan Cheroz membalik serangan hingga akhirnya Cheroz terdesak di dinding gua.

            Cheroz mencoba melompat ke arah Hime namun ia menjatuhkan dirinya ke lantai gua dengan posisi telentang dan membiarkan Cheroz melompati tubuhnya, dan mendapati ekor Cheroz menjuntai di depannya, lalu tanpa jeda Hime mengarahkan tebasannya tepat di ujung ekor Cheroz hingga ekornya terputus.

            Slasshh!! Tebasan Hime memutus ekor Cheroz. Cheroz pun terhempas ke lantai gua dan mengerang kesakitan dan mencoba berdiri kembali menghadap ke arah Hime siap untuk membalas.

            Setelah ekor Cheroz terputus dan jatuh ke tanah tanpa jeda Hime lalu menusukkan ujung pedangnya tepat ke arah cincin yang ada di ujung ekor Cheroz hingga hancur.

            Tiba tiba gua bergetar seperti terkena gempa bumi. Cheroz pun menghilang. Atap dan Dinding gua mulai runtuh sedikit demi sedikit. Menyadari bahaya Hime lalu bergegas melompat dan mengambil kunci yang masih tergantung dengan menebas talinya lalu menangkapnya. Setelah mendapatkannya Hime pun bergegas keluar gua.

            "Huft.... Untung saja sempat." Ucap Hime seraya mengatur nafas yang terengah engah di luar gua. Ia menyaksikan akhirnya Gua Cheroz pun runtuh rata dengan tanah. Hime kembali menyarungkan Katana miliknya dipinggang kirinya.

            Setelah nafasnya teratur kembali Hime bergegas menuju kotak dimensi yang akan membawanya pulang.

***

            Gurun Shand, Southcroith, 11:45 WSE

            Hime sampai di kotak besar yang tadi ia lihat bersama wanita berjubah hitam. Ia menarik nafas panjang lalu memasukkan kunci di lubang kunci kotak itu.

            Klak! Kunci terbuka lalu cahaya terang menyeruak dari dalam kotak yang menarik, Hime bergegas masuk kedalam kotak.  Hime tertarik ke ruang dimensi bersama kunci yang ia dapat tadi, seperti saat awal tadi ia tercebur di air. Berangsung angsur kesadarannya menghilang dan Hime tidak ingat apa apa lagi.


To be Continued ....

Baca cerita sebelumnya disini | Baca cerita selanjutnya disini

Biodata Penulis


Anonima13 adalah seseorang yang biasa dan baru kemarin mengenal dunia tulis menulis. Untuk pertama kali hasil belajarnya mendapat apresiasi. Itu membuatnya semakin ingin dan ingin terus berkarya. Belajar memberi senyuman lewat karyanya dan menyentuh hati setiap pembaca adalah impiannya. Jika ingin mengenal lebih dekat add FB Kiara Rei Ayanami maka kalian akan tau betapa simplenya dia. 





Ingin tulisan kalian dipublikasikan di blog ini? Baca ketentuanya di sini

Ane tunggu naskah kalian! ^.^

Cerpen | The Adventure of Hime: Blue Dragon

Locksene Mansion
The Adventure of Hime : Blue Dragon

            Locksene Mension, Eastabarieth Empire, 07:00 WEE
            Pagi yang ramah dengan senyum malu sang fajar menerpa tiap dinding-dinding timur Locksene mension. Sebuah mension mewah milik seorang keluarga yang tergolong highclass namun memiliki gaya hidup yang berbeda dari kalangan highclass lainnya.

            Dulunya mension itu dihuni oleh satu keluarga utuh, namun karena ada pembantaian 13 tahun lalu, sekarang mension itu hanya dihuni oleh pewaris tunggal Locksene Corporation. Pewaris itu adalah Hime Locksene. Ia tinggal bersama beberapa orang kepercayaan keluarga Locksene Corporation.

            Suatu hari, seorang peramal datang menghampiri Hime tepat disaat ulang tahunnya yang ke-16. Peramal itu sengaja datang sesuai dengan wasiat kepala keluarga Locksene sebelumnya.


            Ruang Tamu Locksene Mension, 08:00 WEE
            Peramal wanita berambut merah dengan jubah hitam pun datang menemui Hime di Locksene Mension. Mereka akhirnya berbincang di ruang tamu seperti Ayah Hime terdahulu yang tidak lain adalah kepala keluarga terdahulu.

            "Sesuai wasiat Ayah anda yakni Tuan Ryuku Locksene, saya datang diulang tahun Hime-sama untuk memberitahukan ramalanku beberapa waktu lalu. Setelah umur anda 16 tahun, saya akan selalu datang untuk mengabari anda mengenai ramalan hamba." Ucap sang peramal.

            "Padahal ayahku sudah meninggal kenapa kau masih setia pada keluarga Locksene?" Tanya Hime menguji peramal itu sambil menyilangkan kakinya dengan anggun.

            "Tuan besar Locksene sudah menjadi keluarga peramal Timur, tentu saja kami akan setia pada keluarga Locksene." Jawab peramal itu masih dengan rasa hormat.

            "Baiklah, beritahu aku apa ramalanmu!" Perintah Hime sedikit bosan.

       "Berdasarkan hasil ramalanku beberapa waktu lalu, aku melihat kehancuran keluarga Locksene Corporation." Jelas peramal itu dengan nada berat.

            "Apa? Kehancuran? .... Lalu apa yang harus kulakukan?" Tanya Hime sedikit panik.

          "Satu-satunya jalan adalah, anda harus mengalahkan se-ekor naga biru yang menjadi legenda Lost Forest di tepi sungai Wish. Lalu mengambil darahnya untuk anda simpan." Jawab peramal itu dengan serius.

            "Mengalahkan naga? Apa anda serius? Aku?" Tanya Hime makin terkejut.

            "Iya nona. Anda! Aku akan membekali anda dengan sebuah benda." Jawab peramal itu lagi sambil menunjukan sesuatu di balik barang bawaannya.

            Peramal itu memberi Hime sebuah Katana dengan panjang satu-meter. Berwarna putih keseluruhan dengan ukiran kelopak sakura lambang keluarga Locksene pada bilahnya―Hawa dingin sangat terasa begitu Katana itu dikeluarkan dari sarungnya.

            "Ini Katana siapa?" Tanya Hime seraya mengambil Katana dari peramal itu. Ia merasakan hawa dingin dari tangan menjalar ke tubuhnya.

            "Itu adalah Katana khusus untukmu. Ayahmu telah membuatnya jauh sebelum anda lahir. Katana itu dibuat khusus dan kami menjaganya hingga anda siap menggunakannya. Pergilah ke Lost Forest dengan ini sesegera mungkin! Sebab kehancuran Locksene Corporation tidak akan menunggu anda nona." Jawab Peramal itu dengan tegas.

            "Baiklah hari ini juga aku berangkat!" Ucap Hime seraya bangkit dari kursinya.

          "Ken siapkan aku kuda terbaik! Aku akan berangkat hari ini." Perintah Hime pada pengawal sekaligus putra seorang Jendral yang mengajari Hime beladiri sejak kecil.

            "Baik." Jawab Ken bergegas.

          Hime kemudian mengganti pakaian, menyelipkan pisau di pinggang kanannya lalu bergegas mengambil Katana yang tadi diberikan peramal itu.

            "Bibi peramal, aku berangkat. Kutitipkan mension ini padamu. Doakan aku segera kembali." Ucap Hime seraya berlari menuju luar mension.

            "Tapi nona...." Ucap peramal itu terputus karena Hime sudah berlari menjauh.

            Melihat Hime berlari penuh semangat sejenak ia terlihat seperti gadis yang berbeda dari yang tadi peramal itu temui beberapa waktu. Ia terlihat seperti ayahnya dahulu.


            Gerbang luar Locksene Mension, 10:00 WEE
            "Apa nona yakin? Aku ikut! Kalau ayah tau pasti nona tidak akan diizinkan pergi." Ucap Ken berusaha mencegah Hime.

            Karena melihat kekhawatiran Ken, Hime berinisiatif untuk menenangkannya. Hime mendekati Ken dengan senyuman lembut.

            "Tenanglah Ken. Aku pasti kembali. Jangan bilang pada paman Shintaro ya. Aku janji akan pulang. Pewaris Locksene tinggal aku saja. Kalau bukan aku, tidak ada yang bisa menyelamatkan Locksene Corporation. Aku harap kamu mengerti Ken. Percayalah padaku." Ucap Hime sambil mengecup pipi kiri Ken. Kemudian menunggangi kudanya lalu meninggalkan Ken.

***

            Hime berangkat menuju Lost Forest dengan kecepatan penuh. Lost Forest termasuk hutan larangan. Tak banyak yang datang kesana, tetapi Hime pernah hampir kesana saat berlatih bersama paman Shintaro.


            Wish River, Eastabarieth Empire, 16:00 WEE
            Hime tiba di Wish River, tepat di seberang sungai itulah terdapat Lost Forest. Dengan melihat dari jauh saja hutan itu sudah terlihat mengerikan. Tak banyak yang tau isinya seperti apa, karena menurut cerita siapapun yang masuk kesana akan kehilangan arah. Dan tak banyak yang bisa kembali dari sana.

            Itu dia tempatnya! Aku harus bergegas. Ayah bantu aku! Ucap Hime dalam hati seraya mengusap Katana di pinggang kirinya berharap sang Ayah akan bersamanya selalu.

            Hime kembali memacu kudanya dengan tidak ragu sedikitpu. Sebab beban kelangsungan Locksene Corporation sekarang ada di tangannya.


            Lost Forest, 16:45 WEE
       Hime tiba di bibir Lost Forest. Ia tetap menunggangi kudanya namun dengan perlahan. Ia memperhatikan sekelilingnya dengan waspada. Hime terus melanjutkan laju kudanya hingga ia tiba di depan sebuah penghalang. Seperti sebuah tirai penghalang berwarna ungu. Katana miliknya bergetar sendiri seperti bereaksi terhadap tirai itu!

            
Setelah turun dari kudanya Hime bergegas menyentuh tirai penghalang itu dengan sedikit keraguan. Saat tangan kanannya menyentuh tirai itu, tangannya menembus tirai pelindung. Menyadari ia bisa masuk, Hime kemudian melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam tirai pelindung. Tubuhnya telah masuk keseluruhan.

            Setelah masuk Hime mendapati sebuah Goa, amat sangat besar bahkan terlalu besar menurutnya. Katana Hime terus bergetar semakin kuat seperti bereaksi terhadap sesuatu yang ada di dalam Goa itu. Karena penasaran Hime pun masuk kedalam Goa itu.

            Saat memasuki Goa, Hime melihat seekor naga biru yang sedang tertidur. Katana miliknya mendadak diam tak bergerak. Kemudian Hime menarik Katananya dan bersiaga.

            Apa naga besar ini yang harus kukalahkan? Gumamnya dalam hati.

         Hime berusaha mencari sudut yang tepat untuk menyerangnya diam-diam, saat naga itu sedang tertidur. Krak! Hime menginjak ranting kering tanpa sengaja. Suara ranting patah itu menggema di dinding Goa hingga membangunkan sang naga. Sontak naga itu mengibaskan ekornya tanda marah karena tidurnya terganggu. Goncangan yang besar membuat Hime terjatuh.

            Ach....! Jerit kecil Hime saat tubuhnya terjatuh ke lantai gua.

         Mendengar suara manusia naga itu reflek menyemburkan api ke arah Hime yang masih terduduk! Hembusan api dari mulut naga tepat mengarah ke Hime. Hime yang terkejut tidak bisa bergerak cepat dan ia hanya mampu mengangkat Katananya searah dengan wajahnya. Clink! Katana itu menyala dengan cahaya putih di depan Hime.

            Api yang mengarah pada Hime mendadak di belokkan. Ada tirai yang melingkup tubuh Hime. Tirai putih yang cukup dingin hingga api tidak membakar tubuhnya. Menyadari itu membuat Hime yakin ayahnya ada di dekatnya! Ia bangkit dari posisinya saat itu. Katana siap di depannya.

            "Aku siap menunaikam tugasku Ayah." Ucap Hime seraya berlari kearah naga itu.

            Naga itu terus terusan menyemburkan api ke arah di mana Hime berada. Ia hanya bisa menghindar, karena Hime harus menyerangnya daro jarak dekat agar mendapatkan serangan yang berarti.

            Bagaimana ini aku butuh kecepatan lebih jika ingin lepas dari jangkauan naga ini. Tapi apa yang bisa kulakukan untuk setidaknya tidak terlihat olehnya sejenak? Gumam Hime seraya memperhatikan sekeliling Goa.

            Stalaktit itu! Sepertinya bisa kupakai untuk mengalihkan perhatiannya. Kalau gagal paling aku mati disini. Ucap Hime seraya kembali bersiap bergerak.

            Hime memegang Katananya dengan tangan kanan. Lalu berlari lurus ke depan.  Ia coba menebas naga secara diagonal dari kanan. Lalu naga menyemburkan apinya tepat ke arahnya! Hime mencoba menahan api itu dengan membuat tirai seperti tadi.

            Sang naga bergerak ke arah kiri menghindari Hime. Begitu mendarat di lantai Goa tanpa jeda Hime kambali melompat kali ini ia mencoba melompat ke atas lalu mencoba menebas stalaktit sekali lalu dengan bantuan dinding atas Goa ia kembali ke lantai Goa mendarat dengan sempurna.

     Cukup keras. Sekali tebas lagi stalaktit itu pasti jatuh! Sekarang tinggal bagaimana menjatuhkannya di waktu yang tepat. Gumam Hime dalam hati seraya memperhatikan posisi stalaktit dan sang naga, lalu bersiap kembali menyerang.

           Hime kembali mencoba bergerak dengan cepat ke arah belakang naga dan diikuti oleh sang naga yang terus menyemburkan apinya. Hime terus berlari, sesekali ia melompat untuk menghindari semburan api sang naga. Kemudian dengan gerakan cepat Hime melempar pedangnya hingga menancap ke stalaktit yang tadi di tebasnya. Naga mengikuti gerakan pegang Hime dan membelakangi Hime.

            Saat pegang menancap di stalaktit kemudian stalaktit itu jatuh―Sang naga langsung menyemburkan api kearah stalaktit yang jatuh itu. Disaat yang sana Hime melompat ke arah sang naga tepat di kepalanya Hime menancapkan pisau yang di bawanya tepat di kepalanya. Darah mengucur deras. Naga itu meronta-ronta kesakitan hingga tubuh Hime yang berpegangan pada pisau yang menancap di kepala naga jadi ikut terhuyung ke sana ke kemari mengikuti gerak sang naga. Sampai akhirnya naga itu berhenti bergerak.

            Hah...hah...hah... Nafas Hime memberu, ia berusaha mengaturnya.

        Setelah Naga itu terjatuh dan tak bergerak lagi Hime melompat ke atas dan mengambil Katana miliknya. Lalu kembali mendarat di lantai gua tepat di depan wajah sang naga. Hime mengusap naga itu.

            "Maafkan aku ..., Aku―" Ucap Hime terputus saat tiba tiba naga itu membuka mata lalu bicara.

            "Tidak perlu minta maaf. Aku sudah menunggumu." Ucap naga itu dengan nada berat.

            Hime terkejut, ia mundur beberapa langkah lalu menyiagakan kembali Katananya. Namun cahaya terang menyinari tubuh sang naga. Kemudian naga itu berubah menjadi seorang pria tua yang tubuhnya di lingkupi cahaya putih yang cukup terang.

            "Terima kasih sudah membebaskanku dari kutukan ini. Aku sudah lama menunggumu." Ucap pria tua itu.

      "Menungguku? Aku kesini karena ingin darah naga biru untuk tetap mempertahankan warisan keluargaku." Ucap Hime.

           "Aku tahu. Karena itu aku menunggumu. Ambillah ini. Ini akan menjadi peneguh keluargamu sekaligus penjaga seluruh keluargamu." Ucap pria itu seraya memberi sebuah telur agak besar berwarna biru.

            "Telur?" Tanya Hime seraya mengambil telur itu.

       "Iya telur itu tidak akan menetas melainkan akan muncul sebagai jelmaan naga biru saat kau membutuhkannya. Darah naga biru ada di dalam telur itu. Bawalah pulang dan simpanlah. Terima kasih telah memenuhi tugasmu." Ucap pria tua itu lalu menghilang.

            Hime yang mendengar ucapan pria tua itu kemudian menyimpan telur istimewa itu di tasnya. Seketika tirai ungu yang melindungi tempat itu hilang dan Lost forest terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.

            Karena Hime merasa tugasnya selesai Hime pun bergegas pulang ke Locksene mension miliknya dengan menunggangi kudanya dengan kecepatan penuh.

To be Continued ....

Baca cerita selanjutnya disini


Biodata Penulis


Anonima13 adalah seseorang yang biasa dan baru kemarin mengenal dunia tulis menulis. Untuk pertama kali hasil belajarnya mendapat apresiasi. Itu membuatnya semakin ingin dan ingin terus berkarya. Belajar memberi senyuman lewat karyanya dan menyentuh hati setiap pembaca adalah impiannya. Jika ingin mengenal lebih dekat add FB Kiara Rei Ayanami maka kalian akan tau betapa simplenya dia. 





Ingin tulisan kalian dipublikasikan di blog ini? Baca ketentuanya di sini

Ane tunggu naskah kalian! ^.^

Instagram

- Copyright © 2013 Blog Zqyu White - Hataraku Maou-sama! - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -