Showing posts with label fantasi. Show all posts
Cerpen | The Adventure of Hatoko: Jjikard
The Adventure of Hatoko: Jjikard
Pagi di Andes, seorang pria dari kerajaan datang
menemui Jjikard, Sang Blacksmith tua yang tinggal di pegunungan Andes guna
membuat pedang. Dia sudah sangat terkenal di kalangan kesatria kerajaan.
Pedangnya selalu memuaskan.
"Master Jjikard... adakah kau di kediamanmu
ini? Aku King Hoyan.” Kata pria dari atas kuda.
Aku yang kebetulan sedang belajar pada Jjikard
segera membukakan pintu. Aku keluar di susul Jjikard dengan menundukkan kepala
sedikit tanda hormat.
"Anda jauh jauh datang kemari pasti ada yang
anda ingin kan, bukan, yang Mulia?" Kata Jjikard.
"Tentu Master Jjikard,” Dia segera turun dari
kudanya, ”Aku ingin kau membuatkan pedang khusus untuk putriku yang berulang
tahun minggu depan. Gunakan material yang bagus dan berkualitas. Sesuaikan
dengan putriku. Aku ingin kau membuatnya segera. Aku akan mengambilnya sendiri
beberapa hari lagi." Kata King Hoyan.
"Keinginanmu adalah perintah bagiku yang mulia.
Hamba akan membuatkan yang terbaik untuk putri anda." Kata Jjikard penuh
santun.
"Baiklah. Jangan kecewakan aku, Jjikard."
Kata King Hoyan seraya berkuda menjauhi kediaman Jjikard.
***
"Aku harus turun gunung dan mencari material
yang cocok untuk pedang sang putri, lebih baik ke lembah naga. Tolong tunggu di
sini, Hatoko." Kata Master Jjikard seraya memasukkan peralatannya kedalam
tas.
"Tunggu master! Biar aku saja. Aku akan
mengambil yang anda butuhkan!" Kataku dengan tegas.
"Apa kau yakin, Hatoko?"
"Tentu master. Apa saja yang kau butuhkan, aku
akan mengambilnya untukmu." Kataku lagi.
"Baiklah. Kau cukup bawakan aku Jeremejevite. Sebuah batu yang tertanam
di Lembah Naga. Batu itu di jaga seekor Naga. Jadi berhati hati-hatilah."
"Baik master." Kataku lagi seraya
menyiapkan peralatan.
***
Saat tiba di lembah naga, ternyata aku bukan satu
satunya yang menginginkan batu Jeremejevite
itu. Aku melihat seorang pemuda dengan sebuah pedang di punggungnya. Aku
bergerak mendekati mulut Goa yang ada di lembah itu dan berpapasan langsung
dengan pemuda itu.
"Ano ... maaf apa kamu mencari batu Jeremejevite?" Tanyaku pada pemuda
itu.
"Kau ... menginginkannya juga?" Tanyanya
seraya menarik pedangnya.
He? Aku terkejut melihatnya menarik pedangnya.
"Etto... apa―" Tanyaku terputus. Tiba tiba
dia bergerak cepat ke arahku dan menubrukkan tubuhnya ke tubuhku hingga merapat
ke dinding. Sebuah stalaktit pun jatuh dari langit langit goa hampir
mengenaiku.
"Astaga! Merepotkan sekali. Terlalu ceroboh.
Mau mati disini? Baka!" Bentaknya.
Aku beku tidak bisa lagi bicara karena
keteledoranku. Kemudian aku berdiri tegak merapikan pakaian dan menghela
nafas panjang. Huft,
"Terima kasih. Aku Hatoko." Kataku.
"Panggil saja aku Ren." Jawabnya sambil
berjalan masuk ke dalam goa.
Aku mengikutinya masuk ke gua seraya menarik
pedangku untuk berjaga-jaga.
Punggung orang
ini begitu kokoh terlihat dari belakang... keren. Astaga apa apaan coba? Malah
mengkhayal yang tidak tidak. Gumamku
dalam hati.
Tak berapa lama kami sudah ada di inti goa. Goa yang
indah terdapat banyak batu yang mengkristal indah. Tapi aku tidak malihat Jeremejevite di manapun. Saat kami sibuk
mencari tiba-tiba saja kami dikejutkan oleh suara aneh.
Hhrrrgg!! ... Suara aneh tiba tiba muncul dan
menyemburkan nafas api.
"Ren, awas!!" Teriakku seraya melompat
untu menghindari semburan api dari seekor naga yang tidak terlalu besar
ukurannya.
"Hatoko ... kau serang dari kiri, aku dari
kanan. Jangan lengah!" Teriaknya dari sisi sebrangku.
"Oke Ren," Aku mulai bergerak maju.
“Lighning
Thunder!" Satu tebasanku mengarah ke lehernya dan secara bersamaan Ren
menebas dari kanan. Saat mendaratkan kaki di dasar goa ekor naga itu menghempas
tubuhku ke dinding Goa.
Bruuk!!
"Ach!" Jeritku tertabrak dinding goa. Aku
mencoba tetap berdiri, "Ren, tolong alihkan perhatiannya!"
"Baik." Dia menyerang membabi buta dari
semua arah.
Aku takjub melihat kecepatan dan staminanya. Seperti mesin saja. Aku kembali berkonsentrasi
fokus pada kalung naga milikku.
"Lepaskan yang terbelenggu. Kori no Keji!" Mantra pembuka
belenggu es kubaca. Kemudian naga itu terselimuti dengan es. Dia diam tak
bergerak lagi. Naga itu menjadi batu.
Tenagaku terkuras habis dipakai untuk membelenggu
benda besar seperti itu. Belum sempat menarik nafas, tiba tiba tubuh naga itu
bercahaya terang sekali. Tak berapa lama kemudian cahayanya meredup perlahan. Setelah
itu cahayanya berangsung memadam dan semakin kecil. Menyisakan sebuah batu Jeremejevite dan Red Diamond yang sangat indah berkilau.
Jadi batu Jeremejevite
dan Red Diamond itu adalah jelmaan naga penjaga? Aku terlalu takjub untuk bisa mencerna semua itu
dengan normal.
Ren mendekat ke kedua batu itu. Lalu mengambil
keduanya. Aku tidak bisa lagi bergerak karena tenagaku terkuras total akibat
mengunci objek yang cukup besar. Sial.
"Dasar terlalu memaksakan diri. Akibatnya kau
yang susah sendiri kan. Ambillah keduanya karena kau yang mengalahkan naganya."
Ren mendekat lalu memasukkan kedua batu itu kedalam tasku.
"Ren...." Kataku belum selesai tiba tiba
Ren memakai Tasku di punggungnya dan menggendongku.
"Aku akan mengantarmu pulang. Di pegunungan
Andes kan?" Kata Ren.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Aroma tubuhmu berbau bunga lily, dan area yang
palig dekat adalah pegunungan Andes." Jelasnya.
Dari sana dia terus menggendongku hingga sampai di
kediaman Master Jjikard. Entah mengapa, aku pikir perjalanan ini
menyenangkan.
***
"Master, master, aku pulang!" Teriakku
dari luar dengan gembira.
Master Jjikard melihatku dengan wajah lega dan
senang saat melihat batu yang kubawakan. Dia segera saja dia membuat pedang
pesanan King Hoyan tersebut.
Proses pembuatan sebuah pedang
memakan waktu yang cukup lama, apalagi di tuntunn hasil yang bagus. Namun itu
tidak mengurungkan niatku untuk melihat tiap detail pembuatannya. Terlebih ini
akan menjadi pelajaran yang amat berharga untukku.
"Akhirnya selesai juga pedang ini." Kata
Jjikard seraya mengangkat pedang buatannya.
Pedang satu mata dengan warna putih dominan dengan
guratan naga merah di tengahnya. Sangat elegan dan cantik. Sangat cocok untuk
sang putri yang seorang kesatria tangguh.
Beberapa hari kemudian, Raja Hoyan datang. Dia
menerima pedang itu dengan sangat puas. Atas jasanya itu Master Jjikard di
kukuhkan sebagai blacksmith terbaik di kerajaan. Dan pesta ulang tahun sang
putri pun berlangsung dengan meriah.
~ End ~
Biodata Penulis
Anonima13 adalah seseorang yang biasa dan baru kemarin mengenal dunia tulis menulis. Untuk pertama kali hasil belajarnya mendapat apresiasi. Itu membuatnya semakin ingin dan ingin terus berkarya. Belajar memberi senyuman lewat karyanya dan menyentuh hati setiap pembaca adalah impiannya. Jika ingin mengenal lebih dekat add FB Amu Hime Hinamori maka kalian akan tau betapa simplenya dia.
Ingin tulisan kalian dipublikasikan di blog ini? Baca ketentuanya di sini
Ane tunggu naskah kalian! ^.^
Ane tunggu naskah kalian! ^.^
Cerpen | The Adventure of Hime : Monsters Hill
The Adventure of Hime : Monsters
Hill
River
Wish, Eastabarieth Empire, 14:00 WEE
Setelah Hime masuk kedalam kotak
dimensi yang membawanya kembali ke Eastabarieth. Tubuhnya tergeletak di tepian
sungai River Wish. Tak berapa lama tergeletak Hime pun kembali sadar.
"Hhh... Ini dimana?"
Gumam Hime seraya memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing dan matanya
yang sedikit kabur.
Hime memperhatikan sekelilingnya
dan menyadari keberadaannya ada di tempat tak jauh dari tempat ia terjatuh
beberapa waktu lalu, River Wish.
Setelah kesadarannya berangsur
pulih Hime beranjak dari posisinya dan menunggangi kudanya kembali. Kunci yang
ia dapatkan saat di Southcroith tergantung manis di lehernya.
Aku mendapatkan telur dan kunci di hari
ulang tahunku. Ayah, apa ini hadiah untukku atau ini awal dari ujianku sebagai
pewaris tunggal keluarga Locksene? Gumam Hime lirih
seraya tetap melajukan kudanya perlahan lahan.
***
Dalam perjalanan, Hime tiba di sebuah kota kecil
bernama Oxfile yang diawal perjalanan terlihat ramai, namun sekarang justru terlihat sangat
sepi. Banyak rumah yang rusak berantakan. Darah berceceran, bahkan masih basah. Kota Oxfile
yang ramai berubah menjadi serupa pemakaman sunyi.
Apa yang terjadi dengan kota ini, pembantaian? Tanya Hime pada dirinya sendiri
seraya memperhatikan kiri dan kanannya dengan seksama berharap ada orang yang
bisa tanyai.
Tiba tiba seorang gadis kecil
datang menghampirinya dengan menangis. Hime langsung turun dari kudanya lalu
menghampirinya.
"Apa yang telah
terjadi?" Tanya Hime dan langsung memeluk gadis kecil itu.
"Ibu ... Ayah ...." Ucap gadis kecil itu sambil
menangis.
"Berhentilah menangis dan
beritahu aku apa yang terjadi!" Ucap Hime dengan sedikit tegas.
Gadis yang memeluknya tadi
langsung melepas pelukannya lalu sesenggukan mencoba menahan tangisnya karena
takut dengan Hime.
"Mo―monster itu ..., menyerang kota kami semalam.
Monster itu membunuh ayah dan ibu―” perkataan gadis itu terhenti oleh
pelukan Hime yang erat.
"’Telur ...,
telur’. Monster itu bilang begitu.” Ujar gadis itu.
Telur? Apa mungkin telur yang ada padaku yang mereka cari? Gumam Hime dalam hatinya.
"Apa ada yang selamat selain
kamu?" Tanya Hime lagi.
"Ada. Ikutlah
denganku!"Jawab gadis itu.
Sang
gadis menarik tangan Hime, gadis itu berjalan menuju suatu tempat yang tak jauh dari
posisinya saat itu. Melewati reruntuhan bangunan.
"Aku Hime. Siapa
namamu?" Tanya Hime untuk memecah kebisuan saat berjalan.
"Aku Rin kak." Jawabnya
singkat.
Tak berapa lama mereka sampai
disebuah rumah yang cukup besar yang dibagian depannya terlihat sudah rusak
berantakan. Dan saat tiba beberapa orang sudah berkumpul di bagian depan.
"Rin... Siapa lagi yang kamu
bawa kembali?" Tanya seorang pria yang sudah cukup tua.
"Dia Hime, ah.. Hime-sama. Aku bertemu dengannya di
jalan kota. Sepertinya dia seorang petualang." Jawab Rin memberi tahu.
"Maaf jika kedatanganku
sedikit mengejutkan kalian. Aku Hime Locksene. Aku baru saja pulang dari Lost
Forest. Beberapa hari lalu aku melewati kota ini masih baik-baik saja tapi saat aku kembali
justru seperti ini."
"Oh, anda dari keluarga Locksene.
Perkenalkan aku Hogo, Tetua di kota ini. Semalam kota kami diserang oleh
monster Windfly. Ia hanya menyebut mengenai telur, namun kami tidak mengetahui telur
apa yang dia maksud." Jelas wanita tua.
"Windfly? Apa kah anda tahu
di mana sarang mereka?" Tanya Hime makin penasaran.
"Iya Windfly. Monster yang
mirip kupu kupu. Salah seorang pengaman kota ini sempat mengikuti kemana
monster itu. Dia belang monster itu ada di balik bukit Oxfile Hill." Ucap Hogo seraya menunjuk
sebuah bukit besar di belakang desa.
"Baikhlah aku akan ke sana. Sepertinya aku tau yang
monster itu inginkan. Maaf karena tidak bisa lama-lama. Aku akan berangkat
sekarang." Ucap Hime seraya kembali menunggangi kudanya dan melajukan
kudanya ke arah bukit.
Gadis yang sangat bersemangat. Jika benar dia dari
keluarga Locksene artinya aku bisa berharap padanya. Gumam Hogo.
***
Oxfile Hill, Eastabarieth Empire Pukul 16:15 WEE
Hime
melajukan kudanya dengan kencang menuju Oxfile Hill. Namun, saat diperjalanan Hime di hadang
oleh seekor monster berbentuk mirip dengan beruang. Monster itu seolah ingin
menerkam Hime dengan berlari dari hadapan Hime.
Menyadari tindakan beruang itu
Hime menarik Katananya lalu berdiri diatas kuda dan menjadikan kudanya sebagai
pijakan lalu melompat ke arah monster beruang yang ada di depannya kemudian
menebas monster itu secara diagonal dari kanan atas ke kiri bawah.
Splash!! Desing angin bertumbukan dengan
ayunan Katana Hime bersatu menyayat pundak monster beruang itu dan darah
muncrat ke atas.
Lalu Hime mendarat tepat di
belakang beruang itu. Tanpa jeda ia lalu menghunuskan pedangnya ke depan dan menusuk kaki beruang itu
hingga tembus ke depan. Saat pedangnya di cabut darah kembali mengalir. Geerrr! Monster beruang itu tumbang.
Setelah memastikan monster itu
telah tumbang Hime memasukkan Katana miliknya ke sarungnya lalu memberi kode
pada kudanya dengan siulan agar mendekat lalu ia kembali melanjutkan
perjalanannya.
Tepat satu kilometer dari tempat tadi Hime
kembali di hadang oleh 3 monster yang ukurannya lebih kecil dari
beruang tadi. Monster itu berbentuk burung pemakan bangkai. Monster itu sering
disebut OxHering. Mereka menyerang bergantian ke arah Hime hingga ia terjatuh
dari kudanya.
"Ach..." Teriak Hime
ketika ia terjatuh.
Tak mau ambil resiko Hime segera
mengeluarkan Katana miliknya dan kembali siaga lalu melakukan serangan balik―Hime
berdiri di tengah diapit burung Oxhering yang membentuk segitiga bergantian
mematuk matuk Hime dan mengepakkan sayapnya menciptakan angin seperti
pisau.
Hime hanya bisa membuat pertahanan
seadanya seperti saat melawan naga tempo hari. Hime berupaya menebas burung itu
secara acak kiri kanan dengan kecepatan yang semakin cepat―Hime berhasil menebas sayap kiri
salah satu burung itu. Namun justru ketiganya jatuh ke tanah. Keberuntungan ada di tangan Hime, tebasan brutalnya mengenai inti
kekuatan burung itu hingga ketiganya kehilangan kekuatan dan berubah menhadi
debu.
Dengan nafas terengah-engah, Hime melanjutkan perjalananya. Ia
menyarungkan Katananya lalu kembali melajukan kudanya.
Kaki bukit Oxfile Hill, Pukul 17:50 WEE
Setibanya ia di kaki bukit Oxfile
Hime kembali di hadang oleh 5 Ekor moster Lebah beracun yakni Yellow Wasp.
Monster Monster lebah itu sudah menunggu Hime diperjalanan dan siap menyerang
Hime. Hime sadar betul kondisinya sekarang sehingga ia berinisiatif menyerang
lebih dulu.
Hime berdiri di atas punggung kudanya lalu menarik
Katananya dan melompat ke arah Yellow Wasp yang menyerang bergantian. Tak lupa
ia memberi kode pada kudanya untuk mengikuti arah gerakannya.
Hime menebas secara horozontal dar
kiri ke kanan dan menggunakan sarung pedangnya untuk memukul. Blash!! Lebah pertama jatuh ke tanah dan kuda Hime menginjak
injak lebah itu Hingga tak berbentuk.
Menjijikan.
Beberapa detik kemudian, Hime kembali menyerang Yellow
Wasp dengan bantuan beberapa pohon sebagai pijakan lompatannya. Hime bergerak
terus dengan cepat sambil menebas. Swing!! Semuanya jatuh ketanah.
Setelah Hime melihat semua Yellow
Wasp jatuh Hime pun mendarat tak jauh dari kudanya.
Hah...hah...hah.... Nafas satu duanya coba terus
diatur hingga ia kembali mendapat ritme nafas normalnya.
"Huft ..., seberapa banyak lagi mahluk
menjijikam itu harus kutangani?" Gerutu Hime seraya menyarungkan kembali Katana
miliknya.
Hime melihat langit yang mulai
gelap, ia kembali menunggangi kudanya
terus melaju ke area di mana Windfly berada.
***
Setelah melewati Oxfile Hill. Hime bertemu dengan dua ekor monster. Salah satunya
Windfly dan seekor lagi LadyBug yang hampir seukuran dengan Windfly.
Saat melihat keduanya, Hime langsung mengambil Katananya
dan bersiaga penuh bersiap menghadapi kedua monster itu.
Akan kuakhiri, serangga!
Lady Bug menyerang lebih dulu
dengan melemparkan cairan beracun dari mulutnya ke wajah Hime. Menyadari itu
Hime melompat ke belakang sejauh 1 meter. Tanpa jeda Hime berlari ke arah
kanan sejauh setengah meter lalu melompat ke arah Lady Bug dan menebasnya tepat
ke arah pinggang kirinya dan Ladybug pun terpotong dua.
Melihat Ladybug terpotong dua
membuat Windfly geram lalu ia mengepakkan sayapnya. Kepakkan itu mengeluakan 8
buah jarum yang melesat ke arah Hime dengan cepat.
Dengan Katananya Hime berhasil
menangkis 7 diantaranya namun 1 buah jarum lolos menembus dada atas sebelah
kirinya. Namun Hime masih tetap berdiri pada posisi siaga dengan Katana di
genggaman kedua tangannya tepat depannya.
Ach....! Jeritnya tertahan saat ia menarik
jarum itu.
Tanpa buang waktu Windfly yang
berwujud seperti manusia kupu kupu itu kembali menyerang Hime dari depan dengan
menendang lurus ke arah wajah Hime. Dengan refleks Hime menahan tendangan
Windfly dengan menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya. Bukk!!
Setelah berhasil menahan tendangan
Windfly Hime memutar posisi tangannya lalu menggenggam kaki kiri Windfly dengan
erat, lalu Hime memutar tubuh Windfly ke
arah batang pohon untuk membenturkannya hingga kepala Windfly membentur batang
pohon, al-hasil ia tersungkur dan terduduk di tanah.
Tanpa jeda Hime lalu menghunuskan
pedangnya lurus ke arah jantung Windfly. Windfly pun tewas tertusuk Katana Hime
yang menancap di jantungnya tembus ke pohon.
Menyadari ia berhasil membunuh
Windfly yang di carinya Hime merasa lega. Lalu ia menarik Katana miliknya dari
tubuh Windfly. Saat ia selesai menyarungkan Katananya tubuh Hime mendadak
oleng. Ia mencoba memaksakan dirinya untuk berjalan mendekati kudanya. Namun
semakin lama pandangannya semakin kabur lalu seluruh pandangannya gelap, Bruk! ia jatuh ketanah dan pingsan.
To be Continued . . .
Baca cerita sebelumnya disini
Biodata Penulis
Anonima13 adalah seseorang yang biasa dan baru kemarin mengenal dunia tulis menulis. Untuk pertama kali hasil belajarnya mendapat apresiasi. Itu membuatnya semakin ingin dan ingin terus berkarya. Belajar memberi senyuman lewat karyanya dan menyentuh hati setiap pembaca adalah impiannya. Jika ingin mengenal lebih dekat add FB Kiara Rei Ayanami maka kalian akan tau betapa simplenya dia.
Ingin tulisan kalian dipublikasikan di blog ini? Baca ketentuanya di sini
Ane tunggu naskah kalian! ^.^
Ane tunggu naskah kalian! ^.^



