Showing posts with label makalah. Show all posts

Tugas | Dasar Dasar Manajemen



 
from roket manajemen

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Manajemen sebagai disiplin ilmu sangat diperhatikan dan dibutuhkan hampir disemua bidang ilmu. Hal ini dikarenakan prinsip dasar manajemen ialah mengatur semua hal yang merujuk pada jangka panjang. Semua bidang ilmu membutuhkan pengaturan atau manage akan segala kegiatan terkontrol dan mendapatkan hasil yang memuaskan dengan waktu, material, energi yang efisien.
            Manajemen kini sering dikaitkan dengan posisi dalam perusahaan “Manajer”, hal ini disebabkan peran dan fungsi manajer sendiri meng-aplikasikan semua prinsip dasar manajemen. Belajar manajemen berarti menjadi manajer, baik untuk diri sendiri maupun untuk kelompok atau organisasi..

2.      Rumusan Masalah
            Agar pembuatan makalah ini tidak terlalu kompleks maka dirumuskan masalah yaitu seabagai berikut:
1)      Apa pengertian Manajemen?
2)      Apa perbedaan Manajemen dengan Manajer?
3)      Bagaimana perkembangan teori Manajemen?
4)      Bagaimana hubungan Manajer dengan lingkungan eksternal organisasi?


3.      Tujuan
            Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1)      Untuk menambah nilai individu mata kuliah Asas Asas Manajemen
2)      Mengetahui dasar, perbedaan, dan hubungan pada disiplin ilmu Manajemen
3)      Memperluas ilmu pengetahuan tentang Dasar Dasar Manajemen
4)      Dapat memahami Dasar Dasar Manajemen

4.      Manfaat
            Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu:
1)      Makalah ini disusun sebagai salah satu penyokong nilai mata kuliah Asas Asas Manajemen
2)      Makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi semua yang membacanya
3)      Agar dapat membantu kita mengetahui tentang Asas Asas Manajemen


BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGERTIAN MANAJEMEN

                                i.            Dasar  Pemikiran

                Dalam melaksanakan kegiatan produksi diperlukan manajemen yang berguna untuk menerapkan keputusan-keputusan dalam upaya mengatur dan mengkoordinasikan penggunaan sumber-sumber daya dalam proses produksi untuk mencapai tujuan organisai.
            Menurut James AF Stoner “Manajemen adalah suatu proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.”
            Dari pengertian manajemen di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah suatu proses bekerja untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya secara efektif danefisien dengan menggunakan orang-orang melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian dengan memanfaatkan sumber daya-sumber daya yang tersedia.
            Ada tiga alasan utama mengapa manajemen diperlukan :
1.      Untuk mencapai tujuan.
2.      Untuk menjaga keseimbangan diantara tujuan-tujuan yang saling bertentangan.
3.      Untuk mencapai efisiensi dan efektivitas kerja organisasi
            Efisiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dengan benar, sedangkan Efektivitas merupakan kemampuan untuk memilih tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.



                                i.            Aplikasi-aplikasi yang berbeda dari  istilah Manajemen
            Ada empat aplikasi yang berbeda dari istilah manajemen. Istilah manajemen dapat digunakan untuk hal-hal yang berhubungan dengan:
1.      Pengelompokan Pekerjaan. Manajemen berarti suatu kelompok orang yang melaksanakan tugas-tugas atau fungsi-fungsi manajerial.
2.      Seorang Individu. yang melaksanakan fungsi-fungsi manajerial atau bagian dari kelompok secara keseluruhan dapat disebut bagian manajemen.
3.      Suatu disiplin akademik. Manajemen adalah suatu bidang spesialisasi akademik, atausuatu bidang studi.
4.      Suatu proses. Manajemen juga merupakan suatu proses; karena mencakup pelaksanaan suatu rangkaian tipe-tipe khusus kegiatan atau fungsi.

                              ii.            Sumber Daya  Dalam Manajemen

1.      Man (factor manusia adalah yang paling menentukan).
2.      Money (uang yang diuntuk mencapai tujuan).
3.      Mathodes (cara kerja atau system kerja yang digunakan untuk mencapai tujuan).
4.      Materials (bahan-bahan yang diperlukan).
5.      Machines (mesin-mesin yang diperlukan untuk mencapai tujuan).
6.      Market (pasar atau pemasaran sebagai tempat untuk memperjualbelikan hasil produksi.


B.     MANAJEMEN DAN MANAJER
            Secara umum “manajer” berarti setiap orang yang mempunyai tanggung jawab atas bawahan dan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya.Manajer dapat diklasifikasi dengan dua cara : menurut tingkatan mereka dalam organisasi(rendah, menengah dan tinggi). Dan kegiatan-kegiatan organisasi untuk mana mereka bertanggung jawab (manajer umum dan fungsional).
        i.            Tingkatan Manajemen

a.       Manajemen pertama Merupakan tingkatan paling rendah dalam suatu organisasi yang memimpin dan mengawasi tenaga-tenaga operasional, dalam tingkatan ini para manajer di sebut dengan kepala atau pemimpin, mandor (foremen), dan penyelia (supervisors)

b.      Manajemen menengah dapat meliputi beberapa tingkatan dalam suatu organisasi. Para manajer menengah membawahi dan mengarahkan kegiatan-kegiatan para manajer lainnya dan kadang-kadang juga karyawan operasional.

c.       Manajer Puncak. Klasifikasi manajer tertinggi ini terdiri dari sekelompok kecileksekutif. Manajemen puncak bertanggung jawab atas keseluruhan manajemenorganisasi. Sebutan khas manajer puncak adalah direktur, presiden, kepala divisi,wakil presiden senior, dan sebagainya.Perbedaan tingkatan manajemen akan membedakan pula fungsi-fungsi manajemen yang dilaksanakan


      ii.            Manajer-manajer Fungsional dan Umum
            Atas dasar ruang lingkup kegiatan yang dikelola, para manajer dapat pula diklasifikasi sebagai manajer fungsional dan manajer umum. Manajer fungsional mempunyai tanggung jawab hanya atas satu kegiatan organisasi, seperti produksi, pemasaran, keuangan,kepegawaian, atau akuntansi.
            Fungsi-fungsi yang dilaksanakan Manajer―Salah satu klasifikasi paling awal dari fungsi-fungsi manajerial dibuat oleh Henri Fayol, yang menyatakan bahwa perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pemberian perintah, dan pengawasan adalah fungsi-fungsi utama.


C.    PERKEMBANGAN TEORI MANAJEMEN KLASIK

1.      Teori Manajemen Klasik
            Pada permulaan tahun 1800 an Robert Owen, seorang manajer beberapa pabrik pemintalan kapas di New Lanark Skotlandia, menekankan pentingnya unsur manusia dalam produksi. Dia membuat perbaikan-perbaikan dalam kondisi kerja, seperti pengurangan hari kerja standar, pembatasan anak-anakdi bawah umur yang bekerja, membangun perumahan yang lebih baik bagi karyawandan mengoperasikan toko perusahaan yang menjual barang-barang dengan murah.Dia mengemukakan bahwa melalui perbaikan kondisi karyawanlah yang akanmenaikan produksi dan keuntungan (laba), dan investasi yang paling menguntungkanadalah pada karyawan atau “vital machines”. Disamping itu Owen mengembangkan sejumlah prosedur kerja yang juga memungkinkan peningkatanproduktivitas.Charles Babbage (1792 – 1871). Charles Babbage, seorang professor matematika dariInggris, mencurahkan banyak waktunya untuk membuat operasi-operasi pabrikmenjadi lebih efisien.Babbage adalah penganjur pertama prinsip pembagian kerja melalui spesialisasi.Setiap tenaga kerja harus diberi latihan keterampilan yang sesuai dengan setiapoperasi pabrik.
2.      Manajemen ilmiah
            Manajemen Ilmiah mula-mula dikembangkan oleh Frederick Winslow Taylor sekitar tahun 1900- an. Karena karyanya tersebut, Taylor disebut sebagai “bapak manajemen Ilmiah”. Taylor telah memberikan prinsip-prinsip dasar (filsafat) penerapan pendekatan ilmiah pada manajemen, dan mengembangkan sejumlah teknik-tekniknya untukmencapai efisiensi. Kemudian pada tahun  1868– 1924 dan 1878– 1972 pasangan suami istri Frank dan Lillian Gilberth  memberikan  Kontributornya, Frank Gilberth, seorang peloporpengembangan studi gerak dan waktu, menciptakan berbagai teknik manajemenyang diilhami Taylor. Sedangkan Lillian Gilberth lebih tertarik pada aspek-aspekmanusia dalam kerja, seperti seleksi, penempatan dan latihan personalia. Diamengemukakan gagasannya dalam bukunya yang berjudul The Psychology of Management. Baginya, manajemen ilmiah mempunyai satu tujuan akhir : membantupara karyawan mencapai seluruh potensinya sebagai mahluk hidup. Pada tahun 1861 –1919 Henry L. Gantt mengemukakan gagasan-gagasan (1) kerjasama yang saling menguntungkan antara tenaga kerja danmanajemen, (2) seleksi ilmiah tenaga kerja, (3) sistem insentif (bonus) untukmerangsang produktivitas, (4) penggunaan instruksi-instruksi kerja yang terperinci. Tahun 1853– 1931 Harrington Emerson datang dengan mengemukakan 12 prinsip-prinsip efisiensi yang sangat terkenal.
3.      Teori Organisasi Klasik
            Henry Fayol seorang  industrialis perancis (1841 –1925), mengemukakan teori danteknik-teknik administrasi sebagai pedoman bagi pengelolaan organisasi-organisasiyang kompleks dalam bukunya yang terkenal, Administration Industrielle et Generale(Administrasi Industri dan umum).Fayol membagi operasi-operasi perusahaan menjadi enam kegiatan, yang semuanyasaling tergantung satu dengan yang lainnya. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah (1)teknik – produksi dan manufacturing produk, (2) komersial –pembelian bahan bakudan penjualan produk, (3) keuangan (finansial) –perolehan dan penggunaan modal,(4) keamanan –perlindungan karyawan dan kekayaan, (5) akuntansi –pelaporan danpencatatan biaya, laba dan hutang,pembuatan neraca, dan pengumpulan datastatistic, dan (6) manajerial.
4.      Aliran Hubungan Manusiawi
            Aliran hubungan manusiawi (prilaku manusia atau neoklasik) muncul karena ketidakpuasan bahwa yang dikemukakan pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkanefisiensi produksi dan keharmonisan kerja. Beberapa ahli mencoba melengkapi teoriorganisasi klasik dengan pandangan sosiologi dan psikologi. Hugo Munsterberg (1863 –1916) dan Mayo (1880 –1949) merupakan dua tokoh yang memberikan kontributornya dalam aliran ini.

5.      Aliran Manajemen Modern
            Masa manajemen modern berkembang melalui dua jalur yang berbeda. Jalurpertama merupakan pengembangan dari aliran hubungan manusiawi yang dikenalsebagai perilaku organisasi, dan yang lain di bangun atas dasar manajemen ilmiah,dikenal dengan aliran kuantitatif.


D.    MANAJER DAN LINGKUNGAN EKSTERNAL ORGANISASI

1.      Faktor-faktor lingkungan eksternal
            Lingkungan eksternal terdiri atas unsur-unsur di luar organisasi, yang sebagian besar tak dapat dikendalikan dan berpengaruh dalam pembuatan keputusan oleh manajer. Organisasi mendapatkan masukan-masukan yang dibutuhkan, seperti bahan baku, dana tenaga kerja,dan energi dari lingkungan eksternal, mentransformasikan menjadi produk dan jasa, dan kemudian memberikan sebagai keluaran-keluaran kepada lingkungan eksternal Lingkungan eksternal mempunyai baik unsur-unsur yang berpengaruh lansung (lingkungan eksternal mikro) dan berpengaruh tidak langsung (lingkungan ekstern makro). Lingkungan ekstern mikro terdiri dari para pesaing, penyedia, langganan, lembaga-lembaga keungan,pasar tenaga kerja, dan perwakilan-perwakilan pemerintah. Unsur-unsur lingkungan eksterrnal makro mencakup teknologi, ekonomi, politik dan sosial yang mempengaruhi iklim dimana organisasi beroperasi dan mempunyai potensi menjadi kekuatan-kekuatan sebagai lingkungan ekstern mikro.
2.      Organisasi Dan Lingkungan
            Lingkungan ekstern mempengaruhi manajer-manajer bervariasi menurut tipe dan tujuanorganisasi. Hal ini berbeda di antara posisi-posisi dan fungsi-fungsi dalam suatu organisasidan bahkan antara tingkatan-tingkatan hirarki di dalam organisasi. Jadi, manajer padaperusahaan A mungkin lebih dipengaruhi faktor-faktor dalam lingkungan ekstern dibandingmanajer pada perusahaan B, eksekutif dipengaruhi lebih daripada pekerja klerikal, danpegawai administrasi kantor dibanding manajer divisi penjualan.


3.      Tanggung jawab sosial Manajer
            Tanggung jawab sosial berarti bahwa manajemen mempertimbangkan dampak sosial dan ekonomi di dalam pembuatan keputusannya. Dengan demikian manajer sekarang dituntut untuk mengimplementasikan etika berusaha, terutama dalam hubungannya denganlangganan, karyawan, penemu teknologi, lembaga-lembaga pendidikan, perusahaan-perusahaan lain, para penyedia, kreditur, pemegang saham, pemerintah dan masyarakat pada umumnya.Ada lima faktor yang mempengaruhi keputusan-keputusan pada masalah etika, yaitu : (1)hukum, (2) peraturan-peraturan pemerintah, (3) kode etik industri dan perusahaan, (4)tekanan-tekanan sosial, dan (5) tegangan antara standar perorangan dan kebutuhanorganisasi. Faktor-faktor ini mempengaruhi etika manajer dengan tingkatan dan padabidang-bidang fungsi yang berbeda-beda.

BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
            Tidak ada manusia yang dapat hidup lenggang tanpa Manajemen, dikarenakan manajemen menjadi pondasi awal mengatur, menata, perencanaan jangka panjang manusia guna meraih kesuksesan dalam hidupnya. Tanpa manajemen manusia akan kehilangan arah, penataan hidupnya akan acak-acakan tidak beraturan, hanya pasrah kepada apa yang akan terjadi kedepannya tanpa ada perencanaan atau planning ke depannya.
            Manajemen menjadi pondasi atau pilar penting dalam ilmu sosial setara dengan ilmu-ilmu lainya, guna mengatur kehidupan agar sesuai keinginan atau mendekati apa yang diharapkan.
            Seseorang yang ahli dalam manajemen hidupnya akan lebih tertata, tenram, dan banyak tujuan yang pada akhirnya ia dapatkan. Menjadi manajer adalah pilihan hidup semua manusia untuk hidup yang lebih baik.
2.      Saran
            Kita sebagai kaum intelek atau yang memiliki intelektualitas tinggi hendaknya menerapkan atau memberikan contoh dalam manajemen yang baik, memberikan sosialisasi dan mengamalkan manajemen dalam kehidupan sehari-hari, karena kepemimpinan terbaik berasal dari kemampuan pemimin menyadarkan bawahannya untuk menirukan perbuatan yang baik.  

DAFTAR PUSTAKA

            Handoko T. Handi, 2015, Manajemen, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
            George R. Terry, 2012, Asas-Asas Manajemen, Bandung: PT. Alumni
            George R. Terry, Leslie W. Rue, 2012, Dasar-Dasar Manajemen, Jakarta: PT. Bumi Aksara.
            Nasution Maulia, 1996, Pengantar Manajemen, Jakarta: Djambatan.
            Dr. Badrudin, 2014, Dasar-dasar Manejemen, Bandung: Alfabeta
            Dr. Ulber Salalahi, MA, 2011, Asas-Asas Manajemen, Bandung: PT. Refika Aditama.

Tugas | Cultural Imperealism Theory dan Media Equation Theory

Equation-media.com


BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
            Pada mulanya, kajian tentang komunikasi, apalagi ilmu komunikasi adalah sesuatu yang tak pernah ada dalam khazanah ilmu pengetahuan. Ketika pada mulanya semua masalah manusia masih dalam kajian filsafat, maka komunikasi selain tidak pernah terpikirkan atau belum dipikirkan oleh manusia (Bungin, 2006: 3).
            Secara Filosofis, komunikasi merupakan awal adanya kehidupan. Karena tanpa komunikasi, tidak ada kehidupan. Seorang ibu yang baru melahirkan bayi, misalnya, secara langsung ia melakukan komunikasi melalui usapan tangan yang lembut, ciuman di pipi sang bayi, dan seterusnya sehingga terjadi hubungan ibu dengan anak. Ungkap Nasrudin (2015, dalam Laksana, 2015).
            Pertanyaanya adalah apakah dalam masyarakat modern saat ini kita bisa lepas dari pengaruh media massa? Ketika kita mendiskusikan sebuah topik aktual, bisakah topik tersebut tidak berkaitan sama sekali dengan berita-berita yang disajikan koran, televisi, radio, atau internet? Apakah seorang dosen dalam mengajar bisa lepas dari sebuah buku? Apakah kita tidak pernah sedikitpun tidak pernah melihat televisi atau mendengarkan siaran radio? Tidak terkecuali tanyakan pula, dari mana umumnya anak-anak mengenal presidennya? Misalnya dari gurunya, lalu gurunya mengenal presiden tersebut dari mana? Jawabannya tentu dari buku atau media massa lain.
            Menurut Nurudin (2007: 2), komunikasi massa adalah studi ilmiah tentang media beserta pesan yang dihasilkan, pembaca/pendengar/penonton yang akan coba diraihnya, dan efeknya terhadap mereka.



2.      Rumusan Masalah
            Agar pembuatan makalah ini tidak terlalu kompleks maka dirumuskan masalah yaitu seabagai berikut:
1)      Apa itu Komunikasi?
2)      Apa yang dimaksud dengan Komunikasi Massa?
3)      Apa itu Cultural Imperealism Theory?
4)      Apa itu Media Equation Theory?

3.      Tujuan
            Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu:
1)      Untuk memenuhi tugas mata kuliah teori komunikasi
2)      Mengetahui teori-teori dalam komunikasi massa
3)      Memperluas ilmu pengetahuan tentang komunikasi massa
4)      Dapat memahami teori komukasi massa

4.      Manfaat
            Adapun manfaat dari penulisan makalah ini, yaitu:
1)      Makalah ini disusun sebagai salah satu pemenuhan tugas mata kuliah teori komunikasi
2)      Makalah ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan, khususnya bagi penulis dan umumnya bagi semua yang membacanya
3)      Agar dapat membantu kita mengetahui tentang teori komunikasi massa



BAB II
PEMBAHASAN
            Manusia adalah mahluk ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Esa dengan struktur dan fungsi yang sangat sempurna bila dibandingkan dengan mahluk Tuhan lainya. Manusia juga diciptakan sebagai mahluk multidimensional, memiliki akal pikiran dan kemampuan berinteraksi secara personal maupun sosial (Bungin, 2006: 25). Adapun sebagai mahluk individu dan sosial, manusia merupakan mahluk yang unik sebagai perpaduan antara aspek individu sebagai perwujudan diri sendiri dan mahluk sosial sebagai anggota kelompok masyarakat (Laksana, 2015: 1).
            Manusia adalah mahluk sosial, maka manusia pada dasarnya tidak mampu hidup sendiri di dalam dunia ini baik sendiri dalam konteks fisik maupun dalam konteks sosial budaya (Bungin, 2006: 25). Di samping itu, sebagai mahluk sosial, manusia senantiasa ingin berhubungan dengan manusia lainnya. Ia ingin mengetahui lingkungan sekitarnya dan peristiwa yang terjadi dalam dirinya. Rasa ingin tahu ini memaksa manusia untuk berkomunikasi, ungkap Muhibudin Wijaya Laksana (2015: 1).
            Komunikasi sangat dibutuhkan oleh manusia yang merupakan mahluk sosial dalam melakukan interaksi dengan lainya, karena tentunya disetiap kesempatan ternyata kita sangat membutuhkan komunikasi untuk membantu kita dalam memahami orang lain seperti apa kebutuhan dan keinginan orang lain lalu digunakan untuk kepentingan bersama. Menurut Endin Nasrudin (2015, dalam Laksana, 2015), “secara filosofis, komunikasi merupakan awal adanya kehidupan. Karena tanpa komunikasi, tidak ada kehidupan”.



A.    Definisi Komunikasi
            Secara bahasa, kata “komunikasi” berasal dari bahasa latin, “comunis”, yang berarti membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antara dua orang atau lebih. Akar katanya “communis” adalah “communico” yang artinya adalah berbagi (Stuart, 1983, dalam Verdiansyah, 2004: 3). Dalam literatur lain disebutkan komunikasi juga berasal dari kata “communication” atau “communicare” yang berarti membuat sama.
            Komunikasi adalah kegiatan bertukar informasi yang dilakukan oleh manusia untuk mengubah pendapat atau perilaku manusia lainnya (Laksana, 2015: 25). Pakar komunikasi lain, Joseph A. Devito mengemukakan komunikasi sebagai transaksi. Transaksi yang dimaksud adalah bahwa komunikasi merupakan suatu proses dimana komponen-komponennya saling terkait dan bahwa para komunikatornya beraksi dan bereaksi sebagai suatu kesatuan dan keseluruhan. Dalam setiap proses transaksi, setiap elemen berkaitan secara integral dengan elemen lain (Suprapto, 2006: 5).
            Komunikasi sebagaimana yang didefinisikan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver (dalam Zamroni, 2009: 4), merupakan penyampaian informasi, ide, perasaan (emosi), keahlian, dan sebagainya, melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar, bentuk, grafik, dan sebagainya.
            Sementara menurut Onong Uchyana (2002: 11), komunikasi sebagai proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran, atau perasaaan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan). Pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benaknya. Perasaan bisa berupa keyakinan, kepastian, keraguan, kekhawatiran, kemarahan, keberanian, kegairahan, dan sebagainya yang timbul dari lubuk hati.
            Maka komunikasi merupakan pusat dari seluruh sikap, perilaku, dan tindakan yang trampil dari manusia. Menurut Porter dan Samovar (dalam Mulyana dan Rakhmat, 2006: 12; Sihabudin, 2011: 14), hampir setiap orang membutuhkan hubungan sosial dengan orang-orang lainnya dan kebutuhan ini terpenuhi melalui pertukaran pesan yang berfungsi sebagai jembatan untuk mempersatukan manusia-manusia, yang tidak berkomunikasi akan terisolasi.
            Pesan-pesan itu muncul lewat perilaku manusia. Ketika kita melambaikan tangan, senyum, bermuka masam, menganggukan kepala atau memberi suatu isyarat, kita juga sedang berperilaku. Perilaku ini merupakan pesan: pesan-pesan itu digunakan untuk mengkomunikasikan sesuatu kepada seseorang (Sihabudin, 2011: 14).



B.     Komunikasi Massa
            Banyak definisi tentang komunikasi massa yang telah dikemukakan para ahli komunikasi. Pada dasarnya komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa seperti: televisi, radio, internet, majalah, koran, tabloid, buku, dan film, ungkap Nurudin (2007: 4).
            Menurut Bittner (1980), komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan pada sejumlah orang. Meletzke mendefinisikan komunikasi massa sebagai setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pertanyaan secara terbuka melalui media penyebaran teknis secara tidak langsung dan satu arah pada publik yang tersebar (dalam Laksana, 2015: 114).
            Komunikasi massa merupakan tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi (Wuryanto, 2000: 33; dalam Laksana, 2015: 114).
            Menurut Rahmat (2003), definisi yang paling sederhana tentang komunikasi massa dirumuskan Bittner (1980), “komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan pada sejumlah orang”. Berdasarkan definisi tersebut, dapat diartikan bahwa komunikasi massa berujuk pada “pesan” (dalam Laksana, 2015: 114).
            Maka, komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas (Bungin, 2006: 71). Dengan subjeknya adalah manusia dan objeknya adalah massa.


1)       
C.    Cultural Imperealism Theory
            Teori ini pertamakali dikemukakan oleh Herb Schiller pada tahun 1973. Tulisan pertama Schiller yang dijadikan dasar bagi munculnya teori ini merupakan Communication and Cultural Domination. Teori imperialisme budaya menyatakan bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia.
            Apa itu budaya?
            Menurut Sugiarti dan Trisakti Hndayani, kata “budaya” pun merupakan perkembangan majemuk dari budi daya, yang berarti daya dari budi. Berdasarkan pengertian tersebut, dibedakan antara budaya yang berarti daya dan budi, yang berupa cipta, karsa dan rasa (dalam Abidin dan Saebani, 2014: 37). Maka, budaya adalah hasil karya berupa cipta, karsa dan rasa manusia.
            Herb Schiller, media massa negara Barat mendominasi media massa di dunia ketiga. Alasannya, media Barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media dunia ketiga. Media Barat sangat mengesankan bagi media di dunia ketiga, sehingga mereka ingin meniru budaya yang muncul lewat media tersebut. Dalam persepektif teori ini, ketika terjadi proses peniruan media negara berkembang dari negara maju, saat itulah terjadi penghancuran budaya asli di negara ketiga (dalam Nurudin, 2007: 175).
            Kebudayaan Barat memproduksi hampir semua mayoritas media massa di dunia ini, seperti film, berita, komik, foto, dan lain lain. Mengapa mereka bisa mendominasi seperti itu? Pertama, mereka mempunyai uang. Dengan uang mereka bisa berbuat apa saja untuk memproduksi berbagai ragam sajian yang dibutuhkan media massa. Bahkan media Barat sudah dikembangkan secara kapitalis. Dengan kata lain, media massa Barat sudah dikembangkan menjadi industri yang mementingkan laba.
            Kedua, mereka mempunyai teknologi. Teknologi modern yang mereka miliki memungkinkan sajian media massa diproduksi secara lebih baik, meyakinkan, dan seolah nyata. Jika anda pernah menyaksikan film Titanic, ada kesan kapal Titanic tersebut benar-benar ada, padahal itu semua tidak ada. Bahkan ketika kapal tersebut menabrak gunung es dan tenggelam, para penumpang kapal itu seperti berenang di laut lepas, padahal semua itu semu belaka. Semua sudah bisa dikerjakan dengan teknologi komputer yang menyerupai kejadian nyata. Semua itu bisa diwujudkan karena negara Barat mempunyai teknologi modern.
            Negara dunia ketiga tertarik untuk membeli produk Barat tersebut. Sebab, membeli produk jauh lebih murah jika dibandingkan dengan membuatnya sendiri. Berapa banyak media massa Indonesia yang setiap harinya mengakses media massa Barat atau kalau berita dari kantor berita Barat. Setiap hari koran-koran di Indonesia berlomba-lomba untuk menampilkan tulisan dari kantor berita asing. Bahkan, foto demonstrasi di Jakarta yang seharusnya bisa difoto oleh wartawan Indonesia sendiri justru berasal dari kantor berita AFP (Prancis). Sesuatu yang sulit diterima, tetapi nyata terjadi.
            Dampak selanjutnya, orang-orang di negara dunia ketiga yang melihat media massa di negaranya akan menikmati sajian-sajian yang berasal dari gaya hidup, kepercayaan, dan pemikiran. Kalau kita menonton film Independence Day, saat itu kita belajar tentang bangsa Amerika dalam menghadapi musuh atau perjuangan rakyat Amerika dalam mencapai kemerdekaan. Berbagai gaya hidup masyarakat, kepercayaan, dan pemikiran orang Amerika ada dalam film itu. Mengapa bangsa di dunia ketiga ingin menerapkan demokrasi yang memberikan kebebasan berpendapat? Semua itu dipengaruhi oleh sajian media massa Barat yang masuk ke dunia ketiga.
            Selanjutnya, negara dunia ketiga tanpa sadar meniru apa yang disajikan media massa yang sudah banyak diisi oleh kebudayaan Barat tersebut. Saat itulah terjadi penghancuran budaya asli negaranya untuk kemudian mengganti dan disesuaikan dengan budaya Barat. Kejadian ini bisa dikatakan sebagai imperialisme budaya Barat. Imperialisme itu dilakukan oleh media massa Barat yang telah mendominasi media massa dunia ketiga.
            Salah satu yang mendasari munculnya teori ini adalah bahwa pada dasarnya manusia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka berpikir, apa yang dirasakan, dan bagaimana mereka hidup. Umumnya, mereka cenderung mereaksi apa saja yang dilihatnya di televisi. Akhirnya, individu-individu tersebut lebih senang meniru apa yang disajikan televisi. Mengapa? Karena televisi menyajikan hal baru yang berbeda dengan yang biasa mereka lakukan.
            Teori ini juga menerangkan bahwa ada satu kebenaran yang diyakininya. Sepanjang negara dunia ketiga terus-menerus menyiarkan atau mengisi media massanya dari media Barat, orang-orang dunia ketiga akan selalu percaya apa yang seharusnya mereka kerjakan, pikirkan, dan rasakan (Nurudin, 2007: 177). Perilaku ini sama persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari kebudayaan Barat.
            Teori imperialisme budaya ini pun tidak lepas dari kritikan. Menurut Nurudin (2007: 177) teori ini terlalu memandang sebelah mata kekuatan audience di dalam menerima terpaan media massa dan menginterpretasikan pesan-pesannya. Ini artinya, teori tersebut menganggap bahwa budaya yang berbeda (yang tentunya lebih maju) akan selalu membawa pengaruh peniruan pada orang-orang yang berbeda budaya. Namun yang jelas, terpaan yang terus-menerus oleh suatu budaya yang berbeda akan membawa pengaruh perubahan, meskipun sedikit.



D.    Media Equation Theory
            Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass (profesor jurusan komunikasi Stanford, Amerika) dalam tulisannya The Media Equation: How People Treat Computers, Television, and New Media Like Real People and Places pada tahun 1996. Teori ini relatif sangat baru dalam dunia komunikasi massa.
            Teori persamaan media ini ingin menjawab persoalan mengapa orang-orang secara tidak sadar dan bahkan secara otomatis merespons apa yang dikomunikasikan media seolah-olah (media itu) manusia. Menurut asumsi teori ini, media diibaratkan manusia. Teori ini memperhatikan bahwa media juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face (dalam, Nurudin 2007: 178). Misalnya, kita berbicara (meminta pengolahan data) dengan komputer seolah-olah komputer itu manusia. Kita juga menggunakan media lain untuk berkomunikasi. Bahkan kita berperilaku secara tidak sadar seolah-olah media itu manusia.
            Dalam komunikasi interpersonal, misalnya manusia bisa belajar dari orang lain,  bisa diminta nasihat, bisa dikritik, bisa menjadi penyalur kekesalan atau kehimpitan hidup. Apa yang bisa dilakukan pada manusia ini bisa dilakukan oleh media massa (Nurudin, 2007: 179). Dalam media cetak misalnya, kita pun bisa meminta nasihat masalah-masalah yang sesuai, kita pun bisa mencari jodoh melalui media, rubik jodoh misalnya. Kita bisa tertawa, sedih, iba terhadap apa yang disajikan media. Menurut Nurudin (2007: 179), intinya, layaknya manusia media bisa melakukan apa saja yang dikehendaki individu bahkan bisa jadi lebih dari itu.
            Dalam proses interaksi sosial dikatakan bahwa orang-orang cenderung dekat dan menyukai satu sama lain karena terjadinya kesamaan, misalnya kesamaan kebutuhan, kepercayaan, status sosial, perasaan senasib, dan lain-lain. Para penonton televisi pun cenderung melihat acara-acara televisi yang bisa memenuhi kebutuhannya atau bahkan mereka menonton televisi dengan alasan kurang kuat karena ada persamaan kepercayaan. Sekedar contoh misalnya, penonton dari kalangan Islam tentunya akan enggan menonton acara masak-memasak di televisi  dengan bahan utamanya daging babi. Hal demikian akan berbeda dengan penganut agama lain yang tidak mengharamkan daging babi. Artinya, orang-orang menggunakan televisi atau komputer tidak sekedar peralatan saja, tetapi ada faktor sosial.
            Teori ekuasi media menemukan kebenarannya jika digunakan untuk mengamati aktivitas di dalam perpustakaan. Banyak perpustakaan yang saat ini memanfaatkan komputer. Suatu fakta yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Jika sebelumnya kita mencari katalog secara manual misalnya dengan mencari daftar singkat mengenai sebuah buku di laci kecil perpustakaan dan jika bingung kita bingung akan bertanya pada petugas perpustakaan. Saat ini semua itu sudah diatasi dengan komputer yang disediakan di perpustakaan. Komputer akan menjawab semua persoalan kita yang berhubungan dengan perpustakaan secara umum dan buku yang disediakan secara khusus.
            Intinya, teori ini memaparkan bahwa pada zaman modern ini, di mana media massa kita gunakan tiap hari dan tidak mungkin tidak menggunakan. Bahwa banyak yang dapat berinteraksi dengan media massa layaknya berkomunikasi dengan manusia lain atau komunikasi interpersonal.



BAB III
PENUTUP
1.      Kesimpulan
            Manusia adalah mahluk sosial, manusia pada dasarnya tidak mampu hidup sendiri di dalam dunia ini baik sendiri dalam konteks fisik maupun dalam konteks sosial budaya (Bungin, 2006: 25). Secara Filosofis, komunikasi merupakan awal adanya kehidupan. Karena tanpa komunikasi, tidak ada kehidupan (Nasrudin, 2015; dalam Laksana, 2015). Maka komunikasi merupakan pusat dari seluruh sikap, perilaku, dan tindakan yang trampil dari manusia.
            Sedangkan komunikasi massa adalah proses komunikasi yang dilakukan melalui media massa dengan berbagai tujuan komunikasi dan untuk menyampaikan informasi kepada khalayak luas (Bungin, 2006: 71). Dengan subjeknya adalah pesan dan objeknya adalah massa.
            Teori imperialisme budaya menyatakan bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia. Kebudayaan Barat memproduksi hampir semua mayoritas media massa di dunia ini, seperti film, berita, komik, foto, dan lain lain. Dalam persepektif teori ini, ketika terjadi proses peniruan media negara berkembang dari negara maju, saat itulah terjadi penghancuran budaya asli di negara ketiga (Schiller dalam Nurudin, 2007: 175).
            Teori persamaan media, menurut asumsi teori ini, media diibaratkan manusia. Teori ini memperhatikan bahwa media juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face (dalam, Nurudin 2007: 178). Intinya, teori ini memaparkan bahwa pada zaman modern ini, di mana media massa kita gunakan tiap hari dan tidak mungkin tidak menggunakan. Bahwa banyak yang dapat berinteraksi dengan media massa layaknya berkomunikasi dengan manusia lain atau komunikasi interpersonal.



 DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Yusuf Zainal dan Saebani, Beni Ahmad, 2014. Pengantar Sistem Sosial    Budaya di Indonesia, Bandung: Pustaka Setia.
Bungin, Burhan, 2006. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus     Teknologi Komunikasi di Masyarakat, Jakarta: Kencana.
Effendy, Onong Uchyana, 2002. Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung:            Remaja Rosdakarya.
Laksana, Muhibudin Wijaya, 2015. Psikologi Komunikasi: Membangun      Komunikasi yang Efektif dalam Interaksi Manusia, Bandung: Pustaka   Setia.
Mulyana, Deddy dan Rakhmat, Jalaluddin, 2006. Komunikasi Antarbudaya.          Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurudin, 2007. Pengantar Komunikasi Massa, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suprapto, Tommy, 2006. Pengantar Teori Komunikasi, Yogyakarta: Media            Pressindo.
Vardiansyah, Dani, 2004. Pengantar Ilmu Komunikasi: Pendekatan Taksonomi,     Bogor: Ghalia Indonesia.

Instagram

►

- Copyright © 2013 Blog Zqyu White - Hataraku Maou-sama! - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -